Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Inflasi di Lampung Pada Mei 2025 Terjaga Dalam Sasaran 2,5±1% (YOY)

Published

on

Alteripost Lampung – Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Lampung pada bulan Mei 2025 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,58% (mtm), melambat dibandingkan periode April 2025 yang mengalami inflasi sebesar 1,19% (mtm).
Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat deflasi nasional yang tercatat sebesar 0,37% (mtm). Secara tahunan, IHK di Provinsi Lampung pada bulan Mei 2025 mengalami inflasi sebesar 2,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 2,80% (yoy) namun lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat inflasi sebesar 1,60% (yoy).

Dilihat dari sumbernya, deflasi pada Mei 2025 utamanya disebabkan oleh penurunan harga komoditas pangan yaitu bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit dengan andil masing-masing sebesar -0,25%; -0,13%; -0,11%; dan -0,08% (mtm). Penurunan harga komoditas tersebut seiring dengan mulai masuknya musim panen raya dan terjaganya pasokan pada sentra produksi. Lebih lanjut, komoditas bawang putih mulai mengalami kelancaran pada pasokan impor serta distribusi lokal.

Lebih lanjut, deflasi yang lebih dalam pada Mei 2025 tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami inflasi terutama angkutan udara, tarif pulsa ponsel, jeruk, mobil, dan kopi bubuk dengan andil masing-masing
sebesar 0,03%; 0,02%; 0,02%; 0,02%; dan 0,02% (mtm). Peningkatan harga pada tarif angkutan udara sejalan
dengan normalisasi harga pasca kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) selama
periode HBKN Idul Fitri 2025 lalu. Kenaikan harga tarif pulsa ponsel sejalan dengan normalisasi harga pasca
pemberian diskon tarif pulsa oleh operator selama bulan April 2025. Lebih lanjut, peningkatan harga pada kopi
bubuk sejalan dengan berlanjutnya kenaikan harga kopi dunia hingga bulan Mei 2025.

Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan bahwa inflasi IHK di Provinsi Lampung akan tetap terjaga
pada rentang sasaran inflasi 2,5±1% (yoy) sepanjang tahun 2025. Namun, beberapa risiko perlu diwaspadai
dan dimitigasi, diantaranya dari Inflasi Inti (Core Inflation) berupa (i) peningkatan permintaan agregat sebagai
dampak dari kenaikan UMP tahun 2025 sebesar 6,5%; dan (ii) berlanjutnya kenaikan harga emas dunia akibat
ketidakpastian geopolitik dan sentimen kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Selanjutnya dari sisi Inflasi makanan yang bergejolak (Volatile Food) adalah (i) peningkatan harga beras pasca berakhirnya periode panen raya (Maret-April 2025); dan (ii) masuknya periode musim kemarau mulai Juni 2025 berpotensi menyebabkan tidak optimalnya produksi tanaman pangan dan hortikultura. Adapun risiko dari inflasi harga yang diatur
pemerintah (Administered Price) yang perlu mendapat perhatian di antaranya kenaikan harga bahan bakar minyak seiring dengan meningkatnya potensi harga minyak dunia akibat dari berakhirnya waktu penundaan
berlakunya tarif perdagangan internasional pada awal Juli 2025.

Meninjau perkembangan inflasi bulan berjalan dan mempertimbangkan risiko inflasi ke depan, Bank Indonesia dan TPID Provinsi Lampung akan terus melanjutkan upaya menjaga stabilitas harga melalui strategi
4K.
1. Keterjangkauan Harga
a. Melakukan operasi pasar beras/SPHP secara terarah dan targeted.
b. Melakukan monitoring harga dan pasokan, khususnya pada komoditas yang berisiko mengalami
kenaikan harga pada triwulan kedua, diantaranya aneka cabai, aneka bawang, aneka sayur, serta
daging dan telur ayam ras.

2. Ketersediaan Pasokan
a. Perluasan Implementasi Toko Pengendalian Inflasi di seluruh wilayah IHK/Non-IHK.
b. Penguatan kerja sama antar daerah (KAD) maupun intra daerah di Provinsi Lampung untuk komoditas
defisit dan berisiko defisit dengan daerah sentra produksi.
c. Berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan DKPTPH terkait data pasokan dalam rangka
memperkuat monitoring ketersediaan pasokan melalui penyusunan neraca pangan.

3. Kelancaran Distribusi
a. Penguatan kapasitas transportasi dengan penambahan volume dan rute penerbangan.
b. Memastikan keberlanjutan dan penguatan implementasi Mobil TOP (Transportasi Operasi Pasar) dalam
menjaga kelancaran operasi pasar.
4. Komunikasi efektif
a. Melakukan rapat koordinasi rutin mingguan di setiap Kabupaten/Kota dalam rangka menjaga
awareness terkait dinamika harga dan pasokan terkini.
b. Memperkuat sinergi komunikasi dengan media dan masyarakat dalam rangka menjaga ekspektasi
positif terhadap prospek perkembangan harga dan kecukupan pasokan.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Ekonomi dan Bisnis

Komitmen Memperkuat Ketahan Energi Nasional, Pembangunan Bioetanol Development Center Dimulai

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Pesawaran-
Perkuat ketahanan energi nasional dan Asta cita presiden, Lampung tancapkan pondasi awal pembangunan melalui launching Bioetanol development center di Masgar, Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin (14/09/2026).

Tiga kegiatan dimulai sekaligus, pertama MoU para pihak, kedua penanaman simbolis sorgum dan pembangunan pabrik seluas 10 ha (target 20 ha) di Tegineneng, Pesawaran.

Tindak lanjut ini merupakan hasil dari penandatanganan joint declaration in estabilishing bioetanol ecosystem development in Lampung Province.

Sebagai landasan kolaborasi dari Menteri Investasi dan Hilirisasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Wamen BKPM Todotua Pasaribu mengatakan, hari ini kita berbicara ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi/bauran energi dan ketahanan ekonomi.

“Konteks bioetanol ini atau solar (B50) sebenarnya negara kita sebagai penghasil cpo dengan luas sawit terbesar di dunia artinya sangat besar potensinya,” katanya.

Bioetanol sebenarnya bahan baku dan sumberdayanya sangat berlimpah dalam negeri, tinggal institusi terkait mau atau tindak memberdayakan.

“Berbagai riset dan otomotif menyebutkan, di Jepang sorgum ini unggul sekali, saya bahkan langsung ke lokasi meninjaunya, sehingga ini sangat ekonomis,” lanjutnya.

Pihaknya juga bicara soal pengembangan sorgum ini untuk diterapkan di Indonesia.

“Ternyata awal riset juga di Lampung, basis utama bagi kami yang jadi perimbangan adalah saat ini penggunaan bensin di negara kita 36 juta pertahun, jadi sudah sangat diperlukan pengembangan etanol,” terangnya.

Ekosistem ini mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.

Lampung memiliki 430 ribu kla dengan strategi utama reaktivitas, sinergi PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi 1G , & 2 G, pilot bioetanol Dev center, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung dan konversi pabrik.

Sebagai dukungan, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, launching bioetanol development center merupakan potensi energi yang kuat biasa.

“Beberapa waktu lalu kita mendengar ini, tapi hari ini kita siapkan fasilitas pendukungnya, saya apresiasi apa yang dikerjakan kementrian, pertamina serta toyota ini,” katanya.

Dilanjutkannya, Lampung memiliki kawasan luas untuk sektor pertanian sekitar 3 juta HA.

“Tinggal pertanyaanya apakah masyarakat siap untuk menanam sorgum ini, maka inilah dukungan yang akan kita berikan,” demikian Rahmat Mirzani Djausal.

Sorgum merupakan tanaman budidaya yang memiliki siklus panen 90 hari, adapun potensi biorthamol 1G kill sekitar 2,5 kl/ha ditambah potensi bioetanol 2G sebanyak 4,7 kl/ha.

Adapun area kultivasinya berasa di masyarakat, tegineneng, pesawaran, Lampung.

Senada, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Yth. Mochamad Iriawan mengatakan, ini adalah langkah nyata membangun kemandirian energi nasional.

“Presiden sudah mengingatkan bangsa besar soal pengadaan energi bukan sekedar pilihan kebijakan, tapi sarat utama bertahan, bertumbuh dan berdaulat,” ujar iwan.

Ia juga memberikan semangat untuk menciptakan kemandirian energi nasional.

“Bangun Asta cita jadi aksi, sumberdaya jadi energi untuk memperkuat kedaulatan bangsa,” tutupnya.

Mesin kultivasi yang akan dibangun ini memiliki kapasitas produksi sebesar 60kl pertahun, dengan potensi bahan baku inti jagung, nora sorgum, singkong, ple, pelepah sawit, tandan kosong, sorgum dan nonggol jagung.

Ditambahkan Presiden direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan, saat ini kita memenuhi fase penting dalam teknologi.

Upaya pemerintah melalui bioetanol merupakan langkah strategis, sejalan dengan komitmen toyota soal rendah karbon.

“Mobilitas yang berkelanjutan diperlukan, ini diperlukan kolaborasi pemerintah, industri, petani dan seluruh stakeholder,”

Pihaknya menyatakan siap membantu mengembangkan teknologi dan ekosistemnya.

“Ini akan memberdayakan sumberdaya lokal untuk optimal, kolaborasi adalah kunci sebagai solusi ketahanan energi nasio al indonesia,” tutupnya.

Diketahui, turut hadir Ketua DPRD Lampung, Sekdaprov Lampung, Bupati Pesawaran, Sekdaprov Lampung, Kodam Raden Intan, Kapolda Lampung, Kajati, Pertamina dan Toyota serta Forkopimda. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading