DPRD
Soal Masyarakat Desa Tak Pakai Dollar, Ketua DPRD Lampung Minta Masyarakat Jangan Salah Paham
Alteripost.co, Bandarlampung-
Ketua DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Giri Akbar, menegaskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait warga desa tidak pakai dolar harus dipahami secara utuh dalam konteks pembangunan ekonomi nasional yang berbasis kerakyatan dan penguatan desa.
Hal itu disampaikan Ahmad Giri Akbar saat podcast bersama IJP Lampung, Selasa (19/5/2025), yang menanggapi potongan video pidato Presiden Prabowo yang ramai diperbincangkan di media sosial usai peluncuran program KDMP.
Menurut Giri, potongan video yang beredar hanya bagian kecil dari pidato Presiden yang berdurasi hampir satu jam dan banyak membahas kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh, baik dari sisi mikro maupun makro.
Ia mengatakan Presiden Prabowo memiliki pemahaman yang kuat terkait kondisi ekonomi nasional, termasuk konsep-konsep ekonomi yang telah dituangkan secara ilmiah dalam berbagai kajian dan buku.
“Statement itu jangan dipotong sepotong-sepotong. Dalam sambutannya Presiden bicara panjang soal ekonomi Indonesia, baik mikro maupun makro. Presiden memahami kondisi ekonomi nasional dan bagaimana arah pembangunan ekonomi ke depan,” kata Giri.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah membangun optimisme masyarakat desa melalui berbagai program strategis nasional, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga penguatan KDMP sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi desa.
Ia menilai pesan Presiden agar masyarakat desa tidak terlalu terpengaruh isu-isu di media sosial, termasuk soal pelemahan rupiah terhadap dolar AS, merupakan bentuk upaya menjaga optimisme masyarakat di tingkat akar rumput.
“Presiden sedang membangun ekosistem di desa. Mulai dari MBG sampai KDMP. Pesannya sederhana, masyarakat desa harus optimistis dan jangan terganggu oleh narasi di media sosial seolah-olah keadaan ekonomi kita buruk,” ujarnya.
Giri mengungkapkan, berdasarkan hasil turun lapangan yang dilakukan pihaknya setiap bulans ebanyak tiga kali ke sejumlah desa di Provinsi Lampung, kondisi distribusi pupuk saat ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Menurut dia, harga pupuk mulai terkendali dan stok di lapangan juga tersedia untuk petani.
“Kami turun langsung ke desa. Sekarang pupuk sudah ditekan harganya dan stok tersedia. Dulu mahal dan barangnya juga sulit dicari,” katanya.
Ia menegaskan pembangunan ekonomi desa menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, optimisme masyarakat harus terus dipelihara di tengah berbagai tantangan global.
Di sisi lain, Giri juga mengakui banyak pendapat objektif yang menyebut kondisi ekonomi saat ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Namun menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Ia turut mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung, Satgas Pangan, dan Bank Indonesia yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga di daerah.
“Lampung mencatat inflasi terendah sebesar 1,89 persen. Selain itu Lampung juga surplus protein hewani maupun nabati. Ini menunjukkan kondisi daerah kita cukup baik,” ujarnya.
Menurut Giri, program MBG juga memberikan dampak pemerataan fiskal karena anggarannya dibagi secara merata ke seluruh daerah dan menjadi stimulus bagi sektor ekonomi lainnya.
Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi memang tidak bisa langsung melonjak tinggi dalam waktu singkat karena pemerintah juga mengejar aspek pemerataan.
“Ekonomi itu bisa dibuat merata, tapi tidak bisa langsung tinggi sekaligus. Sekarang pemerintah sedang mencoba menjalankan keduanya,” katanya.
Meski demikian, ia menilai daya beli masyarakat masih menunjukkan tren positif, terlihat dari meningkatnya pembelian kendaraan roda dua maupun roda empat.
Giri juga mendorong sektor perbankan agar memperbesar dukungan pembiayaan bagi pelaku UMKM dan sektor swasta guna mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Terkait stabilitas rupiah, ia menegaskan kewenangan menjaga stabilitas mata uang berada di tangan Bank Indonesia, bukan pemerintah daerah.
“Kita di daerah tentu tidak melakukan intervensi terhadap dolar dan rupiah. Tugas itu ada di BI. Pemerintah daerah fokus mendukung program nasional dan mengisi sektor-sektor yang bisa dikerjakan daerah,” ujarnya.
Ia juga menyebut Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal telah menyampaikan dorongan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat bermitra dengan KDMP dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Menurutnya, daerah yang maju umumnya memiliki penguatan sektor industri. Karena itu DPRD Lampung turut mendorong pengembangan kawasan industri di Lampung agar mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
“Kita ingin pada pertengahan RPJMD tahun 2027 nanti sudah ada hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan pembangunan ekonomi daerah tidak bisa hanya dilakukan pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
Karena itu, pihaknya juga mendorong penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan berbagai stakeholder lainnya ikut menjadi bagian dalam rantai pasok Program MBG.
“Program pusat sebenarnya sudah sangat baik. Tinggal bagaimana implementasinya di daerah. MBG ini konsepnya bagus, tinggal pelaksanaan di lapangan harus benar-benar dijalankan optimal,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Giri mengimbau masyarakat Lampung untuk tetap optimistis terhadap arah pembangunan nasional dan turut aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemerintah di lapangan.
“Kita harus yakin bahwa Indonesia sedang on the track. Proses pembangunan berjalan lebih baik. Kalau bukan kita yang optimistis terhadap bangsa ini, lalu siapa lagi,” katanya.
Menurut dia, tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Namun ia optimistis Indonesia mampu menjadi negara besar dan melompat menjadi negara maju apabila seluruh elemen bangsa bergerak bersama. (Rls)
DPRD
Pengesahan Raperda APBD 2025 Tegaskan Komitmen Pemprov Lampung dan DPRD pada Transparansi Keuangan
Alteripost Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung menyepakati pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025.
Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat akuntabilitas, transparansi pengelolaan keuangan daerah, serta komitmen bersama dalam mendorong percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Lampung.
Pengesahan tersebut dilaksanakan dalam Rapat Paripurna yang dipimpin oleh Ketua DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Giri Akbar, di Ruang Sidang DPRD Provinsi Lampung, Kamis (30/07/2026).
Menanggapi persetujuan tersebut, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan dan anggota dewan, khususnya jajaran Komisi dan Badan Anggaran (Banggar) yang telah bekerja maksimal dalam merampungkan tahapan pembahasan.
“Persetujuan ini merupakan wujud nyata dari sinergi yang solid antara eksekutif dan legislatif. Selanjutnya, Raperda yang telah mendapat persetujuan dewan yang terhormat ini akan segera kami sampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan. Fokus dan tujuan utama kita tetap satu, yakni mewujudkan masyarakat di Provinsi Lampung yang semakin sejahtera,” ucap Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam sambutannya.
Sementara itu, Juru Bicara Banggar DPRD Provinsi Lampung, Lesti Putri Utami, dalam laporannya memaparkan bahwa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025 telah diaudit oleh BPK RI Perwakilan Provinsi Lampung dengan raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Banggar menilai bahwa secara umum pelaksanaan APBD berjalan dengan baik, di mana realisasi pendapatan, belanja, dan transfer daerah menunjukkan tingkat serapan dan efisiensi yang optimal.
Guna penyempurnaan di masa mendatang, Banggar DPRD Provinsi Lampung memberikan sejumlah rekomendasi strategis agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memprioritaskan pelayanan masyarakat yang selaras dengan visi misi Gubernur. Beberapa penekanan strategis tersebut meliputi:
• Sektor Tata Kelola dan Perencanaan: Perencanaan belanja pegawai harus dievaluasi agar proporsional dan mematuhi aturan perundang-undangan. Bappeda ditekankan untuk memperkuat konsistensi perencanaan berbasis data riil dari RPJMD hingga APBD, sementara BPKAD dan Biro Pengadaan Barang dan Jasa didorong untuk mempercepat penataan aset daerah serta memaksimalkan penerapan transformasi digital e-Katalog.
• Sektor Pendapatan dan Ekonomi: Bapenda diminta mempercepat penetapan NJOP dan administrasi pajak alat berat. OPD penghasil retribusi juga didorong untuk melakukan inovasi layanan, menekan efisiensi belanja operasional, dan mengalihkan ruang fiskal tersebut menuju program produktif yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.
• Sektor Infrastruktur: Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PKPCK), serta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) diwajibkan menyusun jadwal pengadaan yang tepat waktu guna mengoptimalkan serapan anggaran dan meminimalisir risiko tunda bayar. Penanganan infrastruktur mitigasi bencana seperti tanggul dan embung juga menjadi catatan prioritas.
• Sektor Kesehatan dan Sosial: Direkomendasikan adanya peningkatan fokus alokasi pada fasilitas layanan kesehatan, termasuk pemenuhan kelengkapan alat medis dan dokter spesialis di RSUD Bandar Negara Husada. Peningkatan mutu layanan di RSUD Abdul Moeloek, RSJ Provinsi Lampung, serta optimalisasi pelayanan bagi pasien kurang mampu juga menjadi prioritas yang harus ditindaklanjuti sesuai regulasi kesehatan terbaru.
Rapat Paripurna ini diakhiri dengan pembacaan Keputusan DPRD Provinsi Lampung oleh Sekretaris Dewan tentang Persetujuan Penetapan Raperda, yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan bersama oleh Gubernur Lampung dan Pimpinan DPRD Provinsi Lampung.(*)

