Connect with us

Lampung

Silaturahmi Gubernur dan Warga di Momen Idulfitri, Hangat dan Penuh Kekeluargaan

Published

on

Alteripost Bandar Lampung– Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai acara open house yang digelar Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Kediaman Rumah Dinas Gubernur Lampung, Mahan Agung, Bandar Lampung, Senin (31/3/2025).

Sejumlah warga dari berbagai lapisan masyarakat tampak hadir untuk bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Warga dijamu Gubernur Mirza dengan dengan berbagai hidangan khas Lebaran, seperti ketupat, opor ayam, dan kue-kue tradisional.
Suasana kekeluargaan semakin terasa dengan adanya alunan musik religi yang mengiringi acara tersebut.

Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan untuk bertemu langsung dengan Gubernur Mirza dan keluarga. Mereka silih berganti bersalaman dan menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri.

Tak hanya warga biasa, tokoh masyarakat, pemuka agama, pejabat daerah, turut hadir dalam acara tersebut.

“Allhamdulilah kita bisa bersilaturahmi dan merayakaan Hari Raya Idul Fitri dengan Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan,” ujar Muhammad Amin, warga asal Antasari.

Warga lainnya, Rosidi dari Sukarame, mengungkapkan rasa senang bisa datang dan bertemu Gubernur Lampung. Ia berharap kedepan Provinsi Lampung dapat semakin lebih baik lagi. “Semoga berbagai pembangunan di Provinsi Lampung akan dapat diselesaikan dengan baik. Insyaallah,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza didampingi istri menyambut hangat setiap tamu yang hadir. Mereka melayani warga dengan senyum ramah dan sesekali terlibat dalam percakapan ringan.

Ia berharap, momentum Idul Fitri ini dapat mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan masyarakat.

Momentum ini menjadi bukti kedekatan antara pemimpin dan masyarakat, serta semangat kebersamaan di Hari Raya Idulfitri.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Lampung

Sekdaprov Marindo Terima Aspirasi Insan Pers Lampung

Published

on

Foto: Sekdaprov Marindo saat melakukan dialog dengan sejumlah insan pers Lampung perihal dugaan arogansi dari oknum tim media Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung

Alteripost.co, Bandarlampung-
Sejumlah organisasi wartawan mendesak Pemprov Lampung mengevaluasi oknum anggota tim media Gubernur terkait dugaan penghalangan kerja jurnalistik.

Tuntutan tersebut diketahui buntut dari dugaan intimidasi terhadap jurnalis Garuda TV berinisial AA yang diminta menghentikan peliputan dan menghapus rekaman saat meliput agenda Gubernur di The Canopy, Bandar Lampung, Jumat (2/10/2026) lalu.

Kejadian tersebut membuka kembali tabir serupa yang diduga melibatkan tim media gubernur.

Dalam kesempatan tersebut, menghasilkan dialog yang dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung Marindo Kurniawan, didampingi sejumlah kepala OPD, serta perwakilan organisasi pers diantaranya, PWI, Forwako, AMSI, IJTI, FJPI, KWRI, PWRI, Koalisi Wartawan Lampung, Taring, IJP, dan Pewarta Foto.

Sekretaris PWI Lampung, Andi S. Panjaitan, menegaskan permintaan maaf harus datang dari pihak yang menjadi pokok persoalan.

“PWI Lampung mengecam segala bentuk pelarangan atau penghalangan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas peliputan,” tegasnya.

Menurut Andi, evaluasi internal tetap diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang dan tata kelola pendampingan media di lingkungan Pemprov Lampung bisa lebih profesional.

Sementara itu, Ketua Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung, Abung Mamasa, menegaskan persoalan ini bukan konflik pribadi, melainkan soal batas kewenangan tim media gubernur dan kebebasan pers.

Ia bahkan menolak permintaan maaf yang disampaikan Sekdaprov Marindo atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Gubernur.

“Mohon maaf, Pak Sekda dan kepala-kepala OPD lainnya, bukan kami bermasalah dengan Sekda ataupun Gubernur. Kami tidak menerima permintaan maaf itu, karena untuk apa kami menerima? Karena konteksnya bukan Gubernur atau Sekda yang berbuat salah,” tegas Abung.

Menurut Abung, pihak yang diduga melakukan penghalangan harus hadir dan bertanggung jawab langsung.

“Sejauh mana kewenangan tim media dalam melakukan peliputan? Apakah kelasnya di atas kawan-kawan jurnalis yang melakukan peliputan? Apakah dia punya hak untuk melarang?” ujarnya.

Ia menyebut setelah kasus AA mencuat, sejumlah wartawan lain juga mengaku pernah mengalami perlakuan serupa.

Ketua FJPI Lampung, Leni Marlina, turut menyoroti dugaan kekerasan fisik terhadap jurnalis perempuan berinisial L saat meliput apel pembukaan Kemah Bakti Satya Linmas di Bumi Perkemahan Karya Bakti Herman H.N., Kemiling, Bandar Lampung, Kamis (24/9/2026).

Dalam laporan FJPI, L mengaku didorong oleh salah satu anggota tim media gubernur hingga mengenai area dada dan membuatnya syok.

“Jurnalis yang sedang bekerja di lapangan itu tidak sedang sendiri, Pak. Tetapi si L ini tiba-tiba didorong sehingga mengenai area dada korban,” kata Leni.

FJPI mendesak Pemprov mengevaluasi total tim media gubernur dan memperjelas SOP pendampingan agar tidak disalahgunakan untuk membatasi kerja wartawan.

Menanggapi hal tersebut, Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan menyampaikan permintaan maaf atas nama Pemprov dan jajaran Gubernur, serta berjanji segera melakukan evaluasi.

“Sebagai manusia, sebagai pemerintah, kami akan mengevaluasi. Kami memastikan yang terjadi ini menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal bagi Pemerintah Provinsi Lampung,” kata Marindo.

Ia mengatakan akan memberi ruang bagi oknum anggota tim media yang disebut dalam pokok persoalan, untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading