Connect with us

Lampung

Sekdaprov Marindo Kembali Lantik Dua Pejabat Eselon II

Published

on

Foto: Sekdaprov Marindo saat melantik dua Pejabat Eselon II (istimewa)

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Marindo Kurniawan, mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, melantik dua Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PJTP) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Pelantikan berlangsung di ruang rapat utama kantor Gubernur Lampung, Kamis, (28/08/2025).

berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor 800.1.3.3/4769/VI.04 Tahun 2025, Dua pejabat yang dilantik adalah Saipul, S.Sos., M.IP, yang sebelumnya menjabat Penelaah Teknis Kebijakan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, kini dipercaya sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Transmigrasi (PMDT). Sementara itu, Dra. Hanita Fahrial, M.Si, yang sebelumnya menjabat Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, naik menjadi Kepala dinas di instansi tersebut.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang dibacakan Sekda, Gubernur menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pembangunan.

“Keberhasilan seorang pejabat tidak ditentukan oleh jabatan semata, melainkan kemampuan membangun kerja sama dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat,” ucap Sekdaprov Marindo.

Kepada Saipul, Gubernur menitipkan amanah besar untuk memperkuat pembangunan desa dan kawasan transmigrasi. Pemerintah ingin desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat dan motor pembangunan berkelanjutan di daerah.

“Saya ingin agar program strategis pusat dan provinsi di bidang pemberdayaan masyarakat desa diintegrasikan secara konkret. Kita harus bekerja cepat, tepat, dan terukur,” ujar Sekdaprov Marindo.

Ia menekankan, prinsip membangun dari desa dan dari bawah sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia, yang hingga kini dinilai masih relevan sebagai fondasi pembangunan nasional. Lampung ditargetkan menjadi contoh provinsi yang mampu menjalankan agenda pembangunan desa dengan cepat, mandiri, dan berdaya saing.

Selain itu, Dinas PMDT juga diminta mendukung program pemberian makanan bergizi gratis yang menjadi prioritas nasional. Program tersebut dianggap membutuhkan sinergi kuat dengan pemerintah desa, pendamping lokal, dan lembaga masyarakat agar efektif menjangkau anak-anak, terutama di wilayah pedesaan dan transmigrasi.

Sementara itu, untuk Hanita, Gubernur menekankan bahwa pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah isu strategis dalam pembangunan manusia. Ia ditugaskan menjadi motor penggerak kebijakan yang berpihak pada kelompok perempuan, anak, dan masyarakat rentan.

“Langkah strategis seperti penguatan layanan PPPA, pencegahan kekerasan berbasis gender, serta edukasi publik harus diperluas,” ucap Sekdaprov Marindo.

Menurut Gubernur, agenda tersebut selaras dengan misi menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan, termasuk perempuan dan anak.

Pelantikan dua pejabat eselon II ini disebut menjadi bagian dari upaya peremajaan birokrasi Pemprov Lampung. Pemerintah ingin memastikan perangkat daerah dijalankan oleh pejabat yang memiliki kapasitas dan integritas untuk mewujudkan visi Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas.

Dengan penempatan pejabat baru di dua sektor strategis ini, pemerintah berharap penguatan pembangunan desa dan perlindungan kelompok rentan bisa berjalan beriringan. Dampaknya diharapkan tidak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup keluarga di Lampung secara menyeluruh. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Lampung

UPTD Harapan Bangsa Berinovasi, Sulap Pertanian Jadi Inkubator Bisnis Anak Asuh

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Lampung Selatan-
Panti sosial tidak lagi hanya sekadar menjadi tempat pengasuhan. Di UPTD Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PSAA) Harapan Bangsa, Dinas Sosial Provinsi Lampung, yang berlokasi di Kalianda, Lampung Selatan. Anak asuh dibekali untuk belajar mandiri melalui konsep Bee Edu Social Integrated Farming.

Program tersebut dikembangkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus pemberdayaan anak asuh, karyawan panti dan masyarakat sekitar. Konsepnya mengintegrasikan kegiatan pendidikan sosial dengan pertanian dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Kepala UPTD PSAA Harapan Bangsa Dinas Sosial Provinsi Lampung, Drs. Koharuddin, MM, mengatakan pengembangan pertanian terpadu diarahkan agar lingkungan panti tidak hanya menjadi tempat tinggal dan pengasuhan, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak untuk memperoleh keterampilan praktis.

“Tidak ada limbah atau sampah yang dibakar. Semuanya kita manfaatkan menjadi kompos dan pupuk organik,” ujar Koharuddin, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian anak asuh sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih produktif. Anak-anak mendapatkan pengalaman langsung dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungan panti.

Konsep yang dikembangkan UPTD PSAA Harapan Bangsa tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam. Social Integrated Farming ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan dan pemberdayaan.

Melalui kegiatan tersebut, anak asuh dapat belajar mengenal proses produksi, pemanfaatan limbah organik, pembuatan kompos dan pupuk organik hingga bagaimana sebuah kegiatan produktif dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

Dengan demikian, pertanian menjadi laboratorium kehidupan bagi anak asuh untuk membangun keterampilan, kreativitas, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Materi program yang ditampilkan UPTD PSAA Harapan Bangsa juga menempatkan sejumlah pilar utama, yakni pengasuhan holistik berbasis usia, pembentukan karakter, kemandirian serta kreativitas dan inovasi, pendidikan sosial terpadu, serta implementasi dan evaluasi berkelanjutan.

Pendekatan itu diarahkan untuk melahirkan anak asuh yang tidak hanya mendapatkan pengasuhan, tetapi juga memiliki bekal keterampilan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Koharuddin menjelaskan, salah satu gagasan yang ingin dibangun adalah menjadikan UPTD PSAA Harapan Bangsa sebagai social enterprise inkubator bisnis.

Artinya, berbagai kegiatan produktif yang ada di lingkungan panti diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi anak asuh sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi.

“Ini menjadi sarana belajar dan latihan bagi anak asuh untuk kemandirian dan ketahanan pangan,” katanya.

Konsep tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan bekal kepada anak asuh agar tidak selalu bergantung setelah menyelesaikan masa pengasuhan.

Mereka diharapkan memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang, mengelola usaha dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dari Sampah Menjadi Manfaat

Salah satu prinsip yang ditekankan dalam program ini adalah mengubah limbah menjadi sumber daya.

Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan diolah kembali menjadi kompos maupun pupuk organik. Pola tersebut menciptakan siklus yang lebih ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi kegiatan pertanian di lingkungan panti.

Bagi anak asuh, proses tersebut menjadi pengalaman penting. Mereka tidak hanya diajarkan teori tentang menjaga lingkungan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Konsep ini juga membuka ruang keterlibatan karyawan panti dan masyarakat sekitar sehingga manfaat program tidak berhenti di lingkungan UPTD.

Dalam konsep dampak program, UPTD PSAA Harapan Bangsa menargetkan sejumlah perubahan, mulai dari terbentuknya anak yang mandiri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, panti yang lebih produktif, peningkatan kesejahteraan hingga menjadi role model.

Kemandirian anak menjadi salah satu tujuan utama. Sebab, keberhasilan sebuah lembaga pengasuhan bukan semata-mata diukur dari terpenuhinya kebutuhan anak selama berada di panti, tetapi juga dari sejauh mana mereka memiliki kemampuan menghadapi kehidupan setelah keluar dari lembaga tersebut.

Karena itu, pengembangan keterampilan berbasis pertanian, kewirausahaan dan ketahanan pangan menjadi investasi jangka panjang.

Di sisi lain, konsep social enterprise juga diharapkan dapat menjadi salah satu model penguatan keberlanjutan program serta ketahanan finansial bagi ekosistem panti, termasuk karyawan.

Jika dikelola secara konsisten, UPTD PSAA Harapan Bangsa berpotensi berkembang bukan hanya sebagai lembaga pengasuhan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, pertanian terpadu dan inkubasi kewirausahaan sosial.

Model tersebut menjadi menarik karena menggabungkan tiga hal sekaligus: pengasuhan anak, keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.

Pada akhirnya, lahan dan lingkungan panti bukan hanya tempat beraktivitas, tetapi dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar bahwa kemandirian tidak cukup hanya diajarkan—kemandirian harus dilatih dan dipraktikkan sejak dini. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading