Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Dorong Ekonomi Daerah, HIPMI Lampung Audiensi dengan Bank Lampung

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – Bank Lampung menerima audiensi Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Lampung pada Selasa (21/04/2026).

Audiensi ini diterima langsung oleh Direktur Bisnis A. Karim Gusani yang didampingi oleh Direktur Kepatuhan Ahmad Zedri, Vice President dan Assistant Vice President Bank lampung, sementara itu jajaran pengurus inti BPD HIPMI Lampung yang turut hadir adalah Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, Ketua Bidang 1, Ketua Bidang 6, serta Wakil Sekretaris Umum 12.

Pertemuan ini bertujuan untuk membuka ruang sinergi antara dunia perbankan dan pengusaha muda, khususnya dalam mendukung pengembangan usaha, akses pembiayaan, serta peningkatan kapasitas anggota HIPMI di Provinsi Lampung. Dalam audiensi tersebut, kedua pihak membahas sejumlah potensi kerja sama, mulai dari dukungan terhadap kegiatan organisasi, fasilitasi program pembinaan UMKM, hingga peluang kemitraan dalam kegiatan-kegiatan strategis yang diselenggarakan BPD HIPMI Lampung.

Dengan adanya pertemuan ini diharapkan adanya sinergi antara Bank Lampung dan pengusaha muda, khususnya dalam mendukung pengembangan usaha, akses pembiayaan, serta peningkatan kapasitas anggota HIPMI di Provinsi Lampung.

Direktur Bisnis Bank Lampung A. Karim Gusani menyambut baik inisiasi ini dan berkomitmen untuk terus mendukung program-program BPD HIPMI Lampung, terutama yang memberikan dampak langsung terhadap pengembangan ekonomi daerah serta pemberdayaan pelaku usaha muda.

Melalui audiensi ini, diharapkan terjalin kerja sama yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi anggota HIPMI, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung secara keseluruhan.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Ekonomi dan Bisnis

PHC Telah Menghasilkan Bukti, Saatnya Petani di Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

 

Alteripost.co, Lampung-
Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui program Desaku Maju layak mendapat perhatian serius, terutama dari kalangan petani. Program ini tidak sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan hasil nyata di lapangan—khususnya melalui inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC).

PHC hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Berbahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan kerap langka, PHC menawarkan alternatif yang murah, mudah, dan berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada 2025, program PHC telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Hingga April 2026, sebanyak 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi.

Hasilnya tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung sebesar 21,72 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan perubahan nyata di lapangan.

Testimoni petani memperkuat data tersebut. Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Lampung Utara, misalnya, mengaku hasil panen padi meningkat dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC.

Sementara petani melon di Tanggamus menyebut kualitas buah lebih baik dan hasil panen meningkat signifikan dibandingkan penggunaan pupuk konvensional. Tak hanya meningkatkan hasil, PHC juga berdampak pada kesehatan tanaman. Daun lebih hijau, batang lebih kuat, dan serangan hama cenderung menurun. Ini menjadi bukti bahwa pendekatan organik bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan jangka panjang bagi pertanian yang berkelanjutan.

Lebih jauh, PHC menjadi bagian dari strategi besar membangun kemandirian desa. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pada 2027 seluruh 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri. Target ini disusun bertahap—dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa di 2026, hingga menjangkau seluruh desa di 2027.

Jika target ini tercapai, dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi biaya dan stabilitas harga. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan pupuk dari luar. Desa memiliki cadangan sendiri—sebuah langkah strategis yang selama ini jarang disentuh kebijakan daerah.

Dalam konteks ekonomi, PHC juga membuka ruang baru. Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga produsen input pertanian. Perputaran ekonomi terjadi di desa, memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Pendampingan teknis, konsistensi penggunaan, serta perubahan pola pikir petani menjadi kunci keberhasilan. Peralihan dari pupuk kimia ke organik tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan dan bukti nyata yang kini mulai terlihat.

Penghargaan KWP Award 2026 yang diraih Gubernur Lampung sebagai penggerak ekonomi agrikultur dan ketahanan pangan menjadi legitimasi atas arah kebijakan ini.

Namun lebih dari itu, keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana ia mampu bertahan dan berkembang di tingkat petani.
Pada akhirnya, Desaku Maju bukan sekadar program pemerintah.

Ia adalah taruhan besar masa depan pertanian Lampung. PHC telah membuktikan potensinya—tinggal bagaimana petani memanfaatkannya secara maksimal.

Saatnya beralih, dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari biaya tinggi menuju efisiensi. Dari keraguan menuju pembuktian. PHC bukan sekadar pupuk, ini adalah jalan baru bagi petani Lampung untuk maju. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading