Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Kredit dan DBK Terus Tumbuh, Bank Lampung Bukukan Aset 11,55 Triliun

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Bandarlampung-
PT Bank Lampung berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja pada Semester I 2026. Hingga Juni 2026, bank milik Pemerintah Provinsi Lampung bersama pemerintah kabupaten/kota itu membukukan total aset sebesar Rp11,55 triliun atau tumbuh 6,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Tak hanya aset, pertumbuhan juga terjadi pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat.

Direktur Utama (Dirut) Bank Lampung, Indra Merviana, mengatakan hingga Juni 2026 penyaluran kredit mencapai Rp7,91 triliun atau naik 9,89 persen secara tahunan. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,36 persen menjadi Rp8,93 triliun.

“Per Juni 2026 total aset Bank Lampung mencapai sekitar Rp11,5 triliun atau tumbuh 6,38 persen. Kemudian kredit tumbuh 9,89 persen menjadi Rp7,91 triliun dan dana pihak ketiga tumbuh 11,36 persen menjadi Rp8,93 triliun,” ujar Indra dalam acara Media Update Kinerja Industri Keuangan Provinsi Lampung Semester I 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Azana Boutique Hotel, Bandar Lampung, Jumat, 10/7/2026.

Dari sisi permodalan, Bank Lampung membukukan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 29,27 persen. Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimum OJK, yang menunjukkan kondisi permodalan bank masih sangat kuat.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) juga berada di level sehat, yakni 88,55 persen atau masih dalam kisaran ideal yang ditetapkan OJK sebesar 84-94 persen.

Likuiditas perusahaan pun tetap terjaga. Hal itu terlihat dari rasio AL/NCD yang mencapai 82,66 persen, jauh melampaui batas minimum regulator sebesar 50 persen sehingga dinilai cukup untuk menopang ekspansi bisnis.
Sementara itu, kualitas kredit juga masih terkendali dengan Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,86 persen, jauh di bawah ambang batas maksimal 5 persen yang ditetapkan regulator.

Hingga Juni 2026, total penyaluran kredit Bank Lampung mencapai Rp7,91 triliun. Kredit konsumtif masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp5,87 triliun atau tumbuh 10,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kredit produktif juga meningkat 8,60 persen menjadi Rp2,05 triliun. Secara komposisi, kredit konsumtif masih mendominasi sebesar 74 persen, sedangkan kredit produktif berkontribusi 26 persen.

Untuk mendukung sektor riil, Bank Lampung mencatat outstanding kredit UMKM sebesar Rp1,09 triliun, kredit korporasi Rp957 miliar, serta outstanding Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp918 miliar. Adapun realisasi plafon penyaluran KUR hingga Juni 2026 tercatat sebesar Rp359 miliar.

“Penyaluran kredit produktif difokuskan pada sektor-sektor unggulan di Lampung, seperti pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan, aktivitas keuangan, industri pengolahan, serta konstruksi,” ungkapnya.

Selain KUR, Bank Lampung juga terus memperluas pembiayaan melalui pinjaman kepada pemerintah daerah, pembiayaan infrastruktur, hingga kredit sindikasi bersama perbankan lain.

Sementara pada segmen konsumtif, pembiayaan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) masih menjadi andalan. Meski demikian, Bank Lampung terus mengembangkan berbagai produk baru, mulai dari kredit tambahan penghasilan pegawai, pembiayaan berbasis sertifikasi, pinjaman kinerja, hingga pembiayaan yang bersumber dari berbagai insentif ASN.

Di sisi penghimpunan dana, DPK Bank Lampung mencapai Rp8,93 triliun atau meningkat 11,36 persen dibandingkan Juni 2025.
Pertumbuhan terjadi pada seluruh instrumen simpanan. Giro tercatat sebesar Rp2,609 triliun atau naik 2,63 persen (yoy). Tabungan meningkat 10,81 persen menjadi Rp1,928 triliun, sedangkan deposito mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 17,53 persen menjadi Rp4,398 triliun.

Menurut Indra, dana giro masih didominasi oleh simpanan pemerintah daerah. Bank Lampung juga terus memperkuat transformasi digital. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna Mobile Banking Bank Lampung mencapai 186.128 pengguna atau meningkat 22,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jumlah Agen Laku Pandai Lampung Smart juga bertambah menjadi 3.107 agen atau tumbuh 53,34 persen secara tahunan. Sementara merchant QRIS yang bekerja sama dengan Bank Lampung mencapai 12.295 merchant, meningkat 23,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Digitalisasi layanan pemerintah daerah juga terus berjalan melalui implementasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah Republik Indonesia (SIPD RI). Hingga Semester I 2026, implementasinya telah mencapai 75 persen. Sebanyak 12 dari 16 pemerintah daerah di Provinsi Lampung telah berstatus live, sedangkan empat daerah lainnya masih dalam proses implementasi.

Indra menegaskan, Bank Lampung akan terus memperkuat fungsi intermediasi, memperluas layanan digital, serta meningkatkan pembiayaan pada sektor-sektor produktif guna mendukung pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Ekonomi dan Bisnis

Kinerja Sektor Jasa Keuangan Lampung Tetap Kuat, Kredit Tembus Rp114,57 Triliun pada Semester I 2026

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – Kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Lampung hingga Semester I 2026 tetap menunjukkan tren positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp114,57 triliun atau tumbuh 5,35 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,77 persen menjadi Rp75,20 triliun.

Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, mengatakan sektor jasa keuangan di Lampung tetap berada dalam kondisi sehat dan resilien, sehingga mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal di tengah dinamika ekonomi global.

“Kondisi sektor jasa keuangan Lampung hingga Semester I 2026 tetap sehat, resilien, dan mampu menjaga fungsi intermediasi. Ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ujar Otto.

Pertumbuhan kredit ditopang oleh Kredit Modal Kerja sebesar Rp54,64 triliun, Kredit Konsumsi Rp40,99 triliun, dan Kredit Investasi Rp18,93 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross tercatat 2,73 persen dan NPL net 1,31 persen, yang masih berada pada kategori sehat.

Penyaluran pembiayaan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga terus meningkat. Hingga Mei 2026, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp4,35 triliun atau tumbuh 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total 73.787 debitur. Penyaluran terbesar berasal dari Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.

Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar mengalir ke sektor Industri Pengolahan sebesar Rp22,47 triliun, diikuti Perdagangan Besar dan Eceran Rp21,18 triliun, Rumah Tangga Rp18,52 triliun, Bukan Lapangan Usaha Lainnya Rp17,57 triliun, serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp14,73 triliun. Kota Bandar Lampung masih menjadi wilayah dengan portofolio kredit terbesar di Provinsi Lampung.

Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), outstanding pembiayaan peer-to-peer (P2P) lending mencapai Rp1,55 triliun. Sementara itu, jumlah investor pasar modal di Lampung terus meningkat menjadi 203.565 Single Investor Identification (SID), dengan nilai transaksi saham mencapai Rp3,22 triliun hingga Maret 2026.

Selain menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK Lampung juga terus memperkuat literasi dan perlindungan konsumen. Selama Semester I 2026, OJK telah menyelenggarakan 35 kegiatan literasi keuangan yang diikuti 8.315 peserta. OJK juga memberikan 4.660 layanan konsumen dan memproses 11.620 layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK Lampung menjalankan berbagai program inklusi keuangan, di antaranya pembentukan KNMP Desa Perkasa di Lampung Timur, Program Bank Sampah Sekolah di Bandar Lampung, serta pengembangan Ekosistem Pesantren Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS) di Lampung Timur dan Kota Metro.

OJK optimistis kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Lampung akan terus tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan melalui sinergi bersama pemerintah daerah, industri jasa keuangan, pelaku usaha, serta media massa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Lena)

Facebook Comments Box
Continue Reading