Connect with us

Tempat Berpendapat

Tetap Menjaga Eksistensi di Era Disrupsi!

Published

on

Foto: Pelaku Media, Agus Maulud Sihotang, (istimewa)

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Derasnya arus globalisasi yang ditopang lompatan kemajuan teknologi informasi, telah menghadirkan disrupsi terhadap media massa khususnya konvensional.

Salah satu media luar negeri, seperti koran The Washington Post pernah mengungkapkan kekesalan atas kehadiran smartphone sebagai biang keladi ambruknya industri media cetak.

Tentunya sebagai pilar keempat demokrasi, media sebagai instrumen penyajian informasi kepada masyarakat dituntut segera beradaptasi dengan perubahan zaman dan kemajuan teknologi.

Jika tetap mengedepankan ego, serta bersikukuh untuk menggunakan pola lama, maka tak heran cepat atau lambat media tersebut bakal hanyut tergerus derasnya arus globalisasi.

Jika mengutip pernyataan Bambang Soesatyo yang notabenenya mantan Wartawan yang ke Senayan, bahwa kemajuan teknologi telah menggeser paradigma preferensi masyarakat dalam memilih media. Cara menikmati sajian informasi merepresentasikan gaya hidup.

Lanjutnya, masyarakat merasa lebih nyaman dan praktis dalam mengakses berita dengan hanya menjentikkan jari ke smartphone dan mendapatkan konten berita yang up to date, lebih kaya format baik dalam bentuk teks, audio dan video.

“Dibandingkan membaca media cetak yang dinilai tidak efisien, merepotkan, dan menyajikan berita kemarin untuk dibaca hari ini. Tentunya saya percaya bahwa masyarakat lebih memilih mendapatkan informasi yang lebih up to date dong,” ujar Bamsoet sapaan akrabnya, belum lama ini dalam Dialog Nasional 76 Tahun Serikat Perusahaan Pers (SPS), secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, di Jakarta.

Selain beradaptasi dengan perkembangan teknologi, media juga mesti memiliki ciri khas, serta karakter yang memang menjadi nilai jual dari konten-konten atau berita yang diterbitkan untuk dikonsumsi masyarakat.

“Jadi kalau berkaca dari pengalaman senior-senior yang telah merintis dan lebih dahulu terjun di dunia jurnalistik, memang kita sebagai founder atau pelaku media tersebut harus memiliki ciri khas dan karakter, jika kedua poin itu telah dimaksimalkan maka akan terciptanya eksistensi,” ucap Redpel Alteripost.co, Agus Maulud Sihotang, Rabu (23/11/2022).

Lanjutnya, jangan sampai seperti kata peribahasa, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Untuk mengantisipasi itu, maka ciri khas konten atau berita, serta karakter penulisan harus tetap terjaga demi menjaga eksistensi, khususnya di era disrupsi saat ini.

“Saya berkeyakinan bahwa untuk mengantisipasi supaya peribahasa itu tidak menimpa kita di era disrupsi saat ini, maka kita dituntut supaya tetap menjaga eksistensi, serta lebih kompetitif dalam menyajikan informasi kepada masyarakat,” ujarnya. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tempat Berpendapat

Sedang Jadi Sorotan Nasional, Lekas Pulih Lampungku

Published

on

Foto: Menara Siger salah satu ikon Provinsi Lampung (https://www.instagram.com/jaelani_uje/)

 

Alteripost.co, Opini-
Lontaran kritik yang dilakukan Akun Tiktok Awbimax Reborn kepada Pemerintah Daerah (Pemda) membuat Provinsi Lampung menjadi sorotan publik nasional. Tak main-main, sejumlah tokoh publik pun ikut angkat bicara dan memberikan sikap pro dan kontra terhadap sikap dari Pemuda yang sedang melakukan studi di Australia tersebut.

Salah satu tokoh hukum nasional, Hotman Paris Hutapea, yang kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi, telah memasang kuda-kuda untuk membela Bima.

Di sisi lain, sebagian tokoh lokal pun cukup menyayangkan sikap Bima. Karena dalam penyampaian kritikan diiringi dengan diksi yang kurang pantas.

Beberapa hari Provinsi Lampung jadi sorotan nasional yang konteksnya dalam stigma negatif, pelaporan yang ditujukan ke Bima Yudho Saputro pemilik akun Tiktok Awbimax Reborn akhirnya tak dapat diproses Polda Lampung.

Polda Lampung menghentikan penyidikan kasus tiktoker Bima Yudho Saputro yang dilaporkan ke Polda Lampung oleh Ginda Ansori karena mengkritik Provinsi Lampung, Selasa (18/4/2023).

Penghentian perkara penyelidikan laporan kasus tindak pidana informasi dan transaksi elektronik (ITE) dengan terlapor Bima Yudho Saputro (23) tersebut dihentikan setelah Polda Lampung melakukan penyelidikan dan memeriksa sebanyak 6 saksi.

Terlepas dari dinamika yang terjadi, tentunya mayoritas masyarakat Lampung ingin adanya perubahan ke arah yang lebih baik di Provinsi tercinta ini. Karena yang kita ketahui bahwa dalam proses administrasi di birokrasi perlu adanya mekanisme yang mesti dilalui. Seperti tahapan perencanaan, penganggaran dan lelang kegiatan.

Kinerja Pemprov Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Arinal juga layak diapresiasi. Meskipun ada beberapa sektor yang masih perlu diperbaiki, tapi komitmen dari Gubernur Arinal untuk membangun Provinsi tercinta ini juga mesti didukung.

Harapan kita bersama semoga 14 ruas jalan yang masuk skala prioritas dapat segera direalisasikan di tahun 2023 ini. Tentunya diiringi dengan pembangunan yang masif dan gencar melakukan perbaikan di sektor infrastruktur, diharapkan bakal memperlancar konektivitas dan berdampak positif untuk menunjang roda perekonomian di Provinsi kita tercinta ini.

Pak Gub, terus membangun dan berbenah ya, mohon dengan segala hormat, berikan setiap masyarakat ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritikan, serta tolong dipertimbangkan setiap kehendak dari masyarakat khususnya yang berasal dari arus bawah. Lekas pulih Lampungku, Tabik Pun. (Gus)

 

Facebook Comments Box
Continue Reading