Ekonomi dan Bisnis
Inflasi Lampung Naik 0,16% di September, Cabai dan Ayam Jadi Penyumbang Utama
Alteripost Bandar Lampung – Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada September 2025 mengalami inflasi sebesar 0,16% (mtm), berbalik dari kondisi Agustus 2025 yang mengalami deflasi 1,47% (mtm). Angka ini lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 0,21% (mtm).
Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat 1,17% (yoy), naik dibanding bulan sebelumnya 1,05% namun masih di bawah inflasi nasional sebesar 2,65% (yoy).
Penyumbang utama inflasi Lampung berasal dari kenaikan harga cabai merah (0,13%), daging ayam ras (0,12%), dan emas perhiasan (0,05%). Kenaikan harga dipicu oleh berkurangnya pasokan akibat musim panen yang berakhir, turunnya produksi DOC ayam, serta lonjakan harga emas global akibat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Sementara itu, inflasi tertahan oleh deflasi pada sejumlah komoditas, antara lain bawang merah (-0,26%), vitamin (-0,03%), dan tomat (-0,03%), seiring melimpahnya pasokan dari sentra produksi.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung memproyeksikan inflasi sepanjang 2025 tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy). Namun, beberapa risiko inflasi ke depan perlu diantisipasi, antara lain:
Inflasi inti, dipengaruhi kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5% dan meningkatnya konsumsi jelang Natal–Tahun Baru.
Volatile food, seperti potensi kenaikan harga beras akibat berakhirnya panen gadu serta dampak curah hujan tinggi terhadap produksi padi dan hortikultura.
Administered price, terkait potensi kenaikan harga minyak dunia imbas tensi geopolitik Timur Tengah.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama TPID Lampung terus memperkuat strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif). Program ini mencakup operasi pasar beras, perluasan Toko Pengendali Inflasi, subsidi ongkos angkut, hingga penguatan koordinasi antar daerah dalam menjaga pasokan pangan strategis.(*)
Ekonomi dan Bisnis
BI Lampung Ungkap Ekonomi Tetap Tumbuh, Hilirisasi Jadi Kunci 2026
Alteripost Bandar Lampung – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyelenggarakan diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Semester I 2026 pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi kebijakan serta meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan terhadap kondisi dan prospek ekonomi daerah.
Agenda tersebut juga dirangkaikan dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha.
Dalam pemaparan, disampaikan bahwa perekonomian Provinsi Lampung tetap menunjukkan kinerja yang solid. Pada Triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,54 persen (year-on-year), sementara secara keseluruhan tahun 2025 mencapai 5,28 persen (cumulative to cumulative). Kinerja ini terutama ditopang oleh sektor pertanian yang masih menjadi tulang punggung ekonomi Lampung.
Mengusung tema “Penguatan Model Bisnis Komoditas Strategis dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung”, kegiatan ini bertujuan mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan sektor unggulan, khususnya pertanian, dengan pendekatan hilirisasi dan integrasi hulu hingga hilir.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyampaikan bahwa capaian tinggi sektor pertanian pada periode sebelumnya menjadi tantangan tersendiri ke depan. Basis pertumbuhan yang sudah tinggi menuntut upaya ekstra untuk mempertahankan kinerja, terlebih di tengah risiko global yang masih membayangi pada 2026.
Ke depan, perekonomian Lampung pada Triwulan I 2026 diprakirakan tetap kuat, didorong oleh sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan, serta peningkatan permintaan domestik pada periode long festive season seperti Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idulfitri 2026. Secara keseluruhan, ekonomi Lampung sepanjang 2026 diproyeksikan tumbuh solid dengan inflasi yang tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional.
Penguatan sektor pertanian dinilai perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas, yang didukung oleh penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya hingga pemasaran, melalui kolaborasi lintas sektor.
Sejalan dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong program strategis, salah satunya melalui program unggulan Desaku Maju. Program ini mengembangkan ekosistem ekonomi desa secara terintegrasi dengan mengedepankan inovasi, guna mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di tengah keterbatasan fiskal.
Dari sisi kebijakan nasional, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menekankan pentingnya penguatan produksi dan hilirisasi komoditas hortikultura melalui peningkatan produktivitas, modernisasi pertanian, serta penguatan kelembagaan petani dan integrasi rantai pasok.
Sementara itu, PT Food Station Tjipinang Jaya menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok pangan yang terintegrasi, termasuk melalui pengembangan sistem informasi komoditas seperti food hub untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan menjaga keseimbangan pasokan.
Di sisi lain, EPTILU menekankan pentingnya pengembangan model bisnis pertanian terintegrasi (closed loop), yang menghubungkan proses produksi hingga pemasaran melalui pendampingan dan monitoring. Model ini dinilai mampu menjaga kualitas, kepastian pasar, serta stabilitas harga, sekaligus memperkuat posisi strategis Lampung sebagai simpul perdagangan antara Sumatera dan Jawa.
Diskusi juga mengangkat sejumlah isu strategis, seperti masih tingginya aliran keluar komoditas dalam bentuk bahan mentah, keterbatasan kualitas lahan, serta belum optimalnya nilai tambah sektor pertanian. Selain itu, aspek pembiayaan dinilai belum sepenuhnya mendukung pengembangan usaha secara optimal.
Perbankan pun menyatakan kesiapan untuk mendukung penguatan sektor ini melalui peningkatan konektivitas antara petani dan pelaku pasar, dengan tetap menekankan pentingnya kelembagaan dan model bisnis yang kuat.
Sebagai tindak lanjut, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kelembagaan petani, pengembangan sistem informasi komoditas terintegrasi, percepatan hilirisasi, serta penguatan sinergi antar pemangku kepentingan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama dalam mendorong transformasi ekonomi Lampung yang lebih berdaya saing dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.(*)

