Connect with us

Ruwajurai

PLN Lampung Pastikan Layanan SPKLU Andal Selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Lampung menggelar Siaga Kesiapan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 guna memastikan layanan pengisian daya kendaraan listrik tetap andal selama periode libur akhir tahun. Langkah ini merupakan bagian dari upaya PLN dalam mendukung kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.

Dalam siaga tersebut, PLN UID Lampung menyiapkan 64 unit SPKLU yang tersebar di 39 lokasi strategis di wilayah Lampung. Seluruh infrastruktur tersebut didukung oleh 16 Posko Siaga SPKLU Nataru yang tersebar di sejumlah kabupaten, yakni Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan. Posko-posko siaga ini diperkuat dengan 60 petugas yang bersiaga selama 24 jam, serta 3 unit SPKLU Mobile yang ditempatkan di ruas tol untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pengisian daya kendaraan listrik selama arus Natal dan Tahun Baru.

General Manager PLN UID Lampung, Rizky Mochamad, mengatakan bahwa kesiapan SPKLU tersebut merupakan wujud komitmen PLN dalam menghadirkan layanan kelistrikan yang responsif dan andal bagi pelanggan. PLN memastikan pengguna kendaraan listrik dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman selama periode Nataru melalui dukungan infrastruktur pengisian daya yang terintegrasi.

Selain menyiagakan infrastruktur dan personel, PLN juga menghadirkan fitur menu Trip Planner pada aplikasi PLN Mobile untuk mempermudah pemudik kendaraan listrik. Fitur ini membantu pengguna merencanakan rute perjalanan sekaligus mengetahui lokasi SPKLU di sepanjang jalur yang dilalui, sehingga perjalanan dapat berlangsung lebih efisien, terencana, dan minim risiko kehabisan daya.

Melalui Siaga SPKLU Nataru 2025–2026, PLN menegaskan komitmennya dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 sekaligus memastikan kualitas pelayanan kelistrikan kepada masyarakat. PLN akan terus meningkatkan keandalan infrastruktur, kesiapan personel, serta mutu layanan sebagai bagian dari perannya dalam mendukung mobilitas yang berkelanjutan.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Ruwajurai

BI Lampung: Inflasi 0,19 Persen, Stabil di Tengah Tekanan Global

Published

on

Alteripost Lampung – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 0,36 persen (mtm). Angka ini juga sejalan dengan rata-rata inflasi Februari dalam tiga tahun terakhir yang berada di level 0,19 persen.

Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat sebesar 1,16 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen (yoy).

Inflasi Maret terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras (0,05 persen), bensin (0,04 persen), telur ayam ras (0,03 persen), dan beras (0,03 persen).

Kenaikan harga pangan tersebut dipicu meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.

Sementara itu, kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina pada 1 Maret 2026, seiring dinamika harga minyak global.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Cabai merah dan tomat masing-masing memberikan andil deflasi sebesar -0,09 persen dan -0,02 persen (mtm), seiring meningkatnya pasokan dari sentra produksi di Pesawaran dan Lampung Tengah.

Selain itu, penurunan harga emas dunia turut menekan harga emas perhiasan dengan andil -0,02 persen.

Ke depan, Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan (KPw) Lampung memprakirakan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai.

Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan akibat kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen yang direalisasikan bertahap sepanjang 2026, serta potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sementara itu, pada komponen volatile food, risiko dipicu oleh rendahnya realisasi tanam akibat curah hujan tinggi pada Maret 2026 yang berpotensi menekan hasil panen. Selain itu, berdasarkan analisis BMKG, curah hujan diprakirakan rendah pada April–September, serta adanya potensi El Nino lemah pada semester II yang dapat mengganggu produksi pangan dan hortikultura.

Dari sisi administered prices, risiko inflasi berasal dari potensi kenaikan harga BBM akibat fluktuasi harga minyak dunia, serta dampak lanjutan kenaikan tarif Tol Lampung ruas Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi dan harga barang.

Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Langkah konkret yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, penguatan kerja sama antar daerah, perbaikan distribusi pangan, hingga optimalisasi komunikasi publik guna menjaga ekspektasi inflasi di tengah ketidakpastian global.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading