Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

OJK Lampung Soroti Perlambatan Kredit UMKM, NPL Tembus Rp1,5 Triliun

Published

on

Alteripost Lampung – Penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Lampung mengalami perlambatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meski secara nominal masih tumbuh, laju pertumbuhannya terus menyusut.

Hal itu terungkap dalam paparan perkembangan kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) Triwulan IV Tahun 2025 yang digelar OJK Provinsi Lampung, Selasa (3/3/2026) di Ballroom Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Kota Bandar Lampung.

Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, menyampaikan bahwa tren perlambatan kredit UMKM sudah terjadi sejak 2021.

“Pada tahun 2021, kredit UMKM masih tumbuh sekitar 15 persen, turun menjadi 14 persen pada 2022. Tren perlambatan semakin terasa pada 2023 dengan pertumbuhan 9,56 persen, dilanjutkan 2024 yang hanya sekitar 5 persen,” paparnya.

Bahkan pada periode 2024–2025, pertumbuhan kredit UMKM hanya tercatat sekitar 2,50 persen. “Ada pertumbuhan, tapi sangat lambat. Ini menjadi perhatian kami dan akan menjadi prioritas kerja Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di 2026,” ujarnya.

NPL Meningkat, Perbankan Lebih Berhati-hati

Selain perlambatan pertumbuhan, OJK juga menyoroti tekanan pada kualitas kredit UMKM. Secara nominal, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) terus meningkat.

Pada 2021, NPL UMKM masih berada di kisaran Rp850 miliar. Namun pada 2025, angkanya melonjak menjadi sekitar Rp1,5 triliun.

Kondisi ini membuat perbankan dan perusahaan pembiayaan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor UMKM. Menurut Otto, sebagian besar UMKM di Lampung masih berada dalam pola usaha bertahan hidup (survival).

“Banyak pelaku UMKM menggunakan hasil penjualan hari ini untuk memenuhi kebutuhan hidup keesokan harinya. Pola ini membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan eksternal seperti bencana alam atau penurunan aktivitas ekonomi,” jelasnya.

Ia mencontohkan, ketika terjadi banjir beberapa hari dan pelaku usaha tidak bisa berjualan, modal usaha berpotensi langsung habis untuk kebutuhan hidup. Akibatnya, pelaku usaha harus kembali berutang untuk melanjutkan usaha, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gagal bayar.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

OJK menilai dibutuhkan upaya kolaboratif lintas sektor untuk memperbaiki kondisi ini. Tidak hanya OJK, tetapi juga dukungan dari Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta dinas koperasi dan UMKM.

Salah satu fokus utama adalah peningkatan kapasitas (capacity building) pelaku UMKM, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan peningkatan kualitas produk.

Otto menyoroti masih banyak pelaku UMKM yang mencampuradukkan keuangan usaha dengan kebutuhan rumah tangga, sehingga sulit menjaga keberlanjutan modal usaha.
“Pengelolaan keuangan ini krusial. Banyak UMKM yang belum bisa memisahkan mana modal usaha, mana kebutuhan hidup, dan mana dana darurat,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia mendorong pemanfaatan aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) yang dikembangkan Bank Indonesia dan dapat digunakan melalui smartphone untuk membantu pencatatan keuangan UMKM.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pengelolaan keuangan yang baik harus diimbangi dengan kualitas produk yang konsisten.

“Kepercayaan konsumen adalah kunci. Jika trust sudah terbangun, usaha bisa berkembang, kapasitas meningkat, dan akses pembiayaan akan lebih terbuka,” pungkasnya. (Gus).

Facebook Comments Box
Continue Reading

Ekonomi dan Bisnis

Bank Lampung dan Pemprov Lampung Bersinergi Majukan Pertanian Mesuji

Published

on

Alteripost Mesuji – Bank Lampung terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui perluasan akses permodalan bagi pelaku usaha dan sektor pertanian. Dalam rangka mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi Lampung, Desaku Maju, Bank Lampung menyalurkan kredit alat dan mesin pertanian (Alsintan) dengan total nilai lebih dari Rp1 miliar di Kabupaten Mesuji.

Pada Rabu (24/6/2026), Bank Lampung Sub Branch Unit Simpang Pematang menyalurkan kredit Alsintan sebesar Rp512 juta, sementara Bank Lampung Sub Branch Unit Rawajitu Selatan menyalurkan kredit Alsintan sebesar Rp562 juta.

Penyerahan kredit dilakukan secara simbolis dalam rangkaian kunjungan kerja program Desaku Maju yang dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Mesuji Hj. Elfianah Khamami, Direktur Utama Bank Lampung Indra Merviana, serta sejumlah pejabat dan tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bersama Bupati Mesuji Hj. Elfianah Khamami juga melakukan pelepasan sebanyak 33.000 bibit ikan di kawasan Jembatan Pasar KTM, Kecamatan Mesuji Timur.

Program restocking perikanan tersebut merupakan bentuk sinergi antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Mesuji. Pemprov Lampung menyalurkan 20.000 bibit ikan yang terdiri dari 5.000 ekor benih nila, 13.000 ekor benih ikan mas, 1.000 ekor benih baung, dan 1.000 ekor benih bawal. Sementara itu, Pemkab Mesuji turut melepas 13.000 bibit ikan yang terdiri dari 10.000 ekor benih lele dan 3.000 ekor benih nila.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menjelaskan bahwa program restocking tersebut bertujuan mengembalikan fungsi dan peran perairan umum sebagai penyangga ketahanan pangan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan.

Selain itu, pada sektor hilir pertanian, Pemerintah Provinsi Lampung meluncurkan teknologi bed dryer di 500 desa sebagai solusi untuk mengatasi persoalan pengeringan gabah yang selama ini menyebabkan turunnya kualitas dan harga jual hasil panen. Upaya penguatan sektor agribisnis juga didukung melalui kerja sama permodalan dengan Bank Lampung melalui skema Kredit Usaha Alsintan.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur dan Bupati Mesuji turut meninjau proses pembuatan pupuk hayati cair serta menyaksikan simulasi penyemprotan lahan persawahan menggunakan teknologi pesawat tanpa awak (drone) di Desa Pangkal Mas, Kecamatan Mesuji Timur.

Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus memberdayakan sektor usaha produktif dan UMKM di Provinsi Lampung melalui berbagai program pembiayaan dan pendampingan.

“Penyaluran kredit hari ini merupakan salah satu wujud komitmen Bank Lampung dalam mendorong perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku usaha, sehingga ke depan mereka dapat memperluas dan mengembangkan usahanya,” ujar Indra Merviana.

Melalui dukungan permodalan yang berkelanjutan, Bank Lampung berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat sektor pertanian, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta mendukung keberhasilan program pembangunan daerah di Provinsi Lampung.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading