Connect with us

Lampung

Capaian Temuan TBC Way Kanan Baru 35 Persen, Pemprov Lakukan Pendampingan Intensif

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengintensifkan pendampingan kepada pemerintah kabupaten/kota dalam mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC).

Melalui Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) Kabupaten Way Kanan yang dipimpin Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela secara virtual, Rabu (22/7/2026), Pemprov Lampung mendorong penguatan sinergi lintas sektor agar target eliminasi TBC dapat dicapai secara lebih terukur.

Wagub Jihan menegaskan bahwa penanggulangan tuberkulosis (TBC) bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi merupakan agenda pembangunan yang memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan lintas sektor.

Ia mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target Indonesia bebas tuberkulosis pada tahun 2045 yang diperkuat melalui berbagai regulasi, termasuk Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.

Karena itu, pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan pencapaian target tersebut.

Menurutnya, rapat koordinasi tersebut menjadi forum evaluasi terhadap capaian penanggulangan TBC sekaligus menyusun langkah percepatan yang lebih terukur.

“Fokus kita bukan hanya menemukan kasus sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan setiap pasien memperoleh pengobatan hingga tuntas, keluarga pasien mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), serta seluruh indikator penanggulangan TBC dapat tercapai,” tegasnya.

Sebagai Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Provinsi Lampung, Wagub Jihan mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi kini menerapkan rapat koordinasi mingguan bersama seluruh kabupaten/kota sebagai langkah mempercepat penyelesaian berbagai kendala di lapangan.

Ia juga mengingatkan bahwa sesuai Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, pemerintah daerah berkewajiban memasukkan indikator penanggulangan TBC dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, menyediakan pendanaan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, melakukan penemuan kasus secara aktif, memastikan seluruh kasus tercatat dan terlaporkan, hingga memberikan terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Jihan mendorong optimalisasi pemanfaatan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bagi pasien TBC.

Ia meminta koordinasi antara pemerintah daerah dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman agar kuota bantuan yang telah disediakan pemerintah pusat dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) juga tengah mengembangkan website Peduli Tuberkulosis Lampung sebagai sarana skrining mandiri masyarakat.

Melalui platform tersebut, masyarakat dapat melakukan skrining mandiri yang akan mengelompokkan tingkat risiko menjadi empat kategori, mulai dari tidak berisiko hingga membutuhkan pemeriksaan segera.

Hasil skrining tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan tracing TBC terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sehingga pemeriksaan lapangan dapat lebih tepat sasaran dan efisien.

Wagub Jihan juga mengungkapkan bahwa Provinsi Lampung akan memperoleh tambahan 25 unit X-ray portable dari pemerintah pusat guna memperkuat layanan diagnosis TBC.

Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota menyiapkan administrasi maupun sumber daya manusia agar peralatan tersebut dapat segera dioperasikan.

Berdasarkan data semester pertama tahun 2026, target penemuan kasus TBC di Kabupaten Way Kanan mencapai 1.329 kasus.

Namun hingga pertengahan tahun, realisasi penemuan kasus baru mencapai 462 kasus atau sekitar 35 persen dari target.

Sementara capaian pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah masih menjadi indikator yang paling rendah dan memerlukan perhatian serius.

Untuk itu, Wagub Jihan meminta Pemerintah Kabupaten Way Kanan memperkuat penemuan kasus secara aktif, memperluas skrining pada kelompok berisiko, meningkatkan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan, mengoptimalkan pelaporan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), serta melakukan monitoring mingguan terhadap capaian program.

Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Way Kanan Ixuan Akhmadi menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah memiliki Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis serta Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis yang ditetapkan melalui keputusan Bupati.

Ke depan, Rencana Aksi Daerah tersebut direncanakan ditingkatkan statusnya menjadi Peraturan Bupati pada tahun 2027 untuk memperkuat implementasi program.

Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Way Kanan didukung 87 fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri atas rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas, klinik, praktik mandiri dokter, serta laboratorium diagnostik TBC.

Hingga 20 Juni 2026, capaian penemuan kasus TBC baru mencapai 462 kasus dari target 1.329 kasus, sedangkan keberhasilan pengobatan telah mencapai 96 persen.

Namun, cakupan pemberian TPT masih berada di angka 8 persen sehingga menjadi fokus utama percepatan pada sisa tahun berjalan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ixuan mengungkapkan bahwa Pemkab Way Kanan terus memperkuat sosialisasi, pembentukan Kampung Siaga, skrining aktif di masyarakat, investigasi kontak, serta koordinasi lintas sektor.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Lampung

Dukung Pameran Kayu Ara, Bentuk Komitmen Pemprov Lampung Dalam Melestarikan Warisan Budaya

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Jakarta-
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendukung penuh kegiatan pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal sebagai ruang untuk merawat pengetahuan sekaligus memperkenalkan kekayaan arsitektur dan budaya Lampung kepada generasi berikutnya.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal diwakili Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan, pameran yang digelar di Anjungan Lampung dan Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, itu bukan sekadar pameran karya seorang tokoh. Menurut Gubernur, Kayu Ara menjadi ruang untuk membaca perjalanan pengetahuan, kreativitas, dan pengabdian seorang putra Lampung selama lebih dari empat dekade.

“Perjalanan tersebut tidak berhenti pada karya yang telah dihasilkan, tetapi terus menjadi ruang untuk melahirkan gagasan, merawat pengetahuan dan memperkenalkan kekayaan arsitektur serta budaya Lampung kepada generasi berikutnya,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan pada pembukaan pameran, Sabtu (12/9/2026).

Pameran Kayu Ara dibuka pada Sabtu (12/9/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga 12 Oktober 2026. Pameran yang dikuratori Angga Wijaya itu bertumpu pada tiga tema utama, yakni arsitektur dan masyarakat, teknologi dan lingkungan, serta budaya Lampung.

Ketiga tema tersebut dirangkai melalui foto, arsip, kliping koran, buku, gambar teknik, masterplan, video, hingga berbagai dokumentasi perjalanan Anshori Djausal sebagai insinyur, arsitek, akademisi, dan budayawan. Materi tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi diolah menjadi pengalaman visual dan percakapan antargenerasi.

Gubernur Mirza menilai pendekatan tersebut penting karena pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada satu generasi. Ia mengapresiasi Angga Wijaya bersama Hafiz Maha, Hartinis Permatasari, Arif Rahman dan seluruh tim kreatif yang sebagian besar merupakan anak muda asal Lampung yang kini berkarya di Jakarta.

Menurut Gubernur, generasi muda yang terlibat dalam pameran itu tidak sekadar memberikan penghormatan kepada Anshori Djausal. Mereka juga mencoba membaca kembali perjalanan intelektual tokoh tersebut dengan perspektif generasi baru.

Berbagai arsip, dokumentasi, cetak biru, publikasi, catatan penelitian dan karya Anshori diterjemahkan menjadi instalasi seni kontemporer. Dengan cara itu, arsip tidak lagi sekadar menjadi benda masa lalu, tetapi dihidupkan menjadi pengalaman dan percakapan yang dapat dipahami generasi sekarang.

Jejak perjalanan Anshori sendiri membentang sejak dekade 1970-an, ketika modernisasi dan teknokrasi berkembang pesat. Dalam perjalanan tersebut, ia dikenal menerapkan teknologi tepat guna dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, salah satunya melalui teknik ferosemen.

Bagi Anshori, teknologi tidak semata-mata berupa benda atau hasil rekayasa. Teknologi harus menjawab kebutuhan manusia, sesuai dengan kondisi tempatnya, sekaligus memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan.

Pemikirannya juga berkembang ketika ia berada di Universitas Lampung. Selain mendorong digitalisasi dan peningkatan kualitas dosen, Anshori turut memikirkan persoalan Lampung dari berbagai sisi, mulai dari infrastruktur, sosial budaya, ekonomi, lingkungan hingga pemberdayaan kampung-kampung tua.

Gagasan tersebut kemudian membuatnya dipercaya menjadi tenaga ahli pada sejumlah pemerintahan di Lampung, mulai dari era Gubernur Yasir Hadibroto, Poedjono Pranyoto, Oemarsono, Sjachroedin Z.P., M. Ridho Ficardo, Arinal Djunaidi hingga Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.

Salah satu jejak yang mudah dikenali dari pemikiran dan karya Anshori adalah Tugu Siger di depan Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut menjadi salah satu wajah Lampung bagi masyarakat yang memasuki provinsi itu melalui jalur penyeberangan dari Pulau Jawa.

Jejak pemikirannya juga disebut hadir dalam ornamen dan ragam hias Lampung pada perkantoran, hotel, fasilitas publik, serta berbagai karya arsitektur. Hal tersebut menunjukkan bagaimana gagasan mengenai kemajuan dan modernitas dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan identitas daerah.

Gubernur Mirza mengatakan, Kayu Ara dapat menjadi simbol bagaimana pengetahuan seharusnya tumbuh dan diwariskan. Seperti pohon yang memiliki akar, batang, daun dan buah, pengetahuan tumbuh dari pengalaman masa lalu, dikembangkan pada masa kini, kemudian menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

“Kayu Ara menjadi simbol bahwa karya dan pemikiran tidak mengenal batas usia. Yang paling penting bukan hanya seberapa tinggi seseorang tumbuh, tetapi seberapa kuat akar pengetahuan yang ditanam dan seberapa luas martabat yang diberikan bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ujar Gubernur.

Karena itu, Pemprov Lampung memandang pameran tersebut merupakan bukti bahwa generasi muda Lampung mampu membawa karya dan gagasan daerah ke ruang nasional. Arsitektur, teknologi, lingkungan, budaya dan seni kontemporer dipertemukan dalam satu ruang sehingga identitas Lampung dapat dibicarakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Pelaksana Tugas Direktur Operasional TMII Jaya Chandranegara mengatakan, Contemporary Art Gallery tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, membuka percakapan dan menghadirkan perspektif baru bagi pengunjung.

Sejak diresmikan pada 28 Oktober 2023, Contemporary Art Gallery telah bekerja sama dengan 11 ekshibitor dan menyelenggarakan 14 pameran. Pameran Kayu Ara bersama Rimpang Digital menjadi bagian dari perjalanan galeri tersebut menuju penyelenggaraan pameran ke-15.

Menurut Jaya, kekuatan pameran Kayu Ara terletak pada cara pemikiran Anshori Djausal mempertemukan arsitektur, teknologi, lingkungan dan budaya Lampung dalam satu ruang. Budaya, kata dia, tidak semestinya berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi harus terus bergerak, ditafsirkan kembali dan menemukan relevansinya dalam kehidupan sekarang.

Pemprov Lampung berharap pameran Kayu Ara tidak berhenti sebagai catatan perjalanan seorang tokoh. Pameran ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya gagasan dan karya baru, sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenali akar pengetahuan daerah tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dengan membawa perjalanan lebih dari empat dekade Anshori Djausal ke ruang nasional, pameran Kayu Ara membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat bahwa kemajuan teknologi dan arsitektur dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya. Bagi masyarakat Lampung, warisan pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun daerah yang modern, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading