Ekonomi dan Bisnis
Mengulas Kenaikan BI Rate ke 5,75, Apakah Sudah Efektif Dalam Menjaga Stabilitas Rupiah?
Alteripost.co, Nasional-
Posisi rupiah sempat beberapa hari menguat di saat Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-rate menjadi 5,75 persen. Namun, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat kembali melemah ke level sekitar Rp.17.950. Hal ini memicu pertanyaan, apakah langkah Bank Indonesia sudah cukup efektif dalam menjalankan kebijakan moneternya?.
Dalam beberapa bulan terakhir, patut diakui bahwa Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah strategis. Suku bunga dinaikkan, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dibuat semakin menarik, dan berbagai instrumen moneter digunakan untuk menjaga stabilitas Rupiah. Kebijakan ini dijalankan di tengah situasi global yang sedang tak bersahabat.
Penguatan Dollar Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan arah kebijakan bank sentral negara maju memang memberikan tekanan yang tidak ringan bagi hampir seluruh negara berkembang (emerging markets).
Pihak Bank Indonesia (BI) menegaskan kenaikan BI Rate sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 5,75 persen merupakan bagian dari upaya mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa waktu lalu.
Selain itu, suku bunga deposit facility juga meningkat sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.
Tentunya kita sebagai masyarakat terus menanti kebijakan-kebijakan strategis lainnya ke depan dari Institusi-instusi terkait, dalam menjaga keseimbangan pasar guna memperkuat ekosistem ekonomi dalam negeri.
Selain itu, kita juga sebagai masyarakat perlu berperan dan mendukung pemerintah dalam upaya-upaya yang sedang dan telah dilakukan. Seperti mencintai produk-produk lokal, menjaga kondusivitas, serta menciptakan iklim yang bersahabat untuk meningkatkan kepercayaan dari pihak investor baik dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.
Salam Hangat
Agus Sihotang
Ekonomi dan Bisnis
Inflasi Lampung Juni 2026 Melandai, BI Pastikan Tetap Dalam Target
Alteripost Bandar Lampung – Laju inflasi Provinsi Lampung pada Juni 2026 tercatat melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, inflasi tahunan tetap berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia (BI), menunjukkan stabilitas harga di daerah masih terjaga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, inflasi Juni 2026 secara bulanan (month-to-month/mtm) mencapai 0,55 persen, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,82 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat 2,46 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa tekanan inflasi pada Juni 2026 terutama berasal dari kelompok transportasi. Komoditas bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,21 persen, seiring penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberikan andil terhadap kenaikan inflasi. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain bawang merah, tomat, bawang putih, dan minyak goreng. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan, meningkatnya permintaan, faktor cuaca, serta kenaikan biaya produksi dan distribusi.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah, telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, dan nugget. Penurunan harga tersebut didorong oleh meningkatnya pasokan hasil panen serta normalisasi permintaan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
Bank Indonesia memperkirakan inflasi Provinsi Lampung hingga akhir 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diantisipasi, di antaranya potensi kenaikan harga energi global, gangguan pasokan pangan akibat faktor cuaca, fluktuasi nilai tukar, serta dampak lanjutan penyesuaian tarif transportasi.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui empat pilar utama, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi pelaksanaan operasi pasar, penguatan kerja sama antardaerah, optimalisasi distribusi pangan, hingga peningkatan koordinasi lintas instansi.
Bimo Epyanto menegaskan bahwa Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi dalam mengendalikan inflasi agar stabilitas harga tetap terjaga di tengah meningkatnya tantangan ekonomi global maupun domestik.
“Dengan sinergi yang kuat bersama seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis inflasi Lampung tetap terkendali dalam kisaran sasaran sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ujar Bimo. (rls)

