Connect with us

Lampung

Lampung Kejar Eliminasi TBC 2030, Wagub Jihan Tekankan Penemuan Kasus dan Pencegahan

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mendorong penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Provinsi Lampung dilakukan secara masif dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting lantaran masih banyak kasus TBC yang belum ditemukan, meski tingkat keberhasilan pengobatan di Lampung tergolong tinggi.

“Ini bukan tugas insan kesehatan saja, tetapi seluruh stakeholder, seluruh lapisan masyarakat. Saya ingin gerakannya seperti gerakan Pekan Imunisasi Nasional pada saat dulu,” ujar Jihan saat meluncurkan website Peduli TB Lampung sekaligus mengukuhkan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia Tuberkulosis (KOPI TB) se-Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, jajaran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, komunitas, dan NGO.

Jihan mengatakan, berdasarkan estimasi 2026, terdapat sekitar 30.745 kasus TBC di Lampung. Namun, hingga akhir Agustus 2026, capaian notifikasi kasus baru baru mencapai sekitar 38 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara estimasi kasus dengan jumlah penderita yang berhasil ditemukan.

Menurutnya, tantangan utama penanggulangan TBC bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan obat, melainkan bagaimana menemukan penderita sedini mungkin, memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, melakukan pemeriksaan terhadap kontak serumah, serta memberikan terapi pencegahan kepada masyarakat yang memenuhi syarat.

“Ketika satu kasus tuberkulosis ditemukan secara terlambat, dampaknya tidak berhenti pada satu pasien saja. Ia mempunyai konsekuensi terhadap keluarga, terhadap lingkungan, produktivitas pun,” katanya.

Karena itu, Pemprov Lampung mendorong keterlibatan berbagai unsur hingga tingkat masyarakat, mulai dari camat, lurah, RT, RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TNI, Polri, fasilitas kesehatan, hingga komunitas masyarakat.

Jihan menilai pola kerja lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus rantai penularan TBC.

Lampung saat ini memiliki 13 kabupaten dan dua kota, 229 kecamatan, serta ribuan desa dengan jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa. Sekitar 69 persen penduduk berada pada usia produktif sehingga penularan TBC dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap produktivitas dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dari sisi layanan kesehatan, Lampung memiliki sembilan rumah sakit pemerintah, 63 rumah sakit swasta, 322 puskesmas, 560 klinik TPMD, 15 klinik lapas/rutan, serta dua rumah sakit TNI/Polri.

Jihan meminta seluruh fasilitas kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga aktif melakukan penemuan kasus dan membantu memutus mata rantai penularan.

Pemprov Lampung juga mendorong seluruh kabupaten dan kota memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TBC serta Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) yang aktif.

“Kita terus mendorong seluruh kabupaten/kota memiliki rencana aksi daerah penanggulangan tuberkulosis dan tim percepatan penanggulangan tuberkulosis atau TP2TB yang benar-benar aktif,” ujar Jihan.

Menurutnya, RAD dan TP2TB tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi harus diterjemahkan menjadi program, target, pembiayaan, dan indikator yang jelas.

Pengawasan juga akan diperkuat melalui rapat koordinasi secara berkala. Jihan menyebut koordinasi dengan 15 kabupaten dan kota telah dilakukan dan akan dilanjutkan setiap pekan untuk memantau perkembangan penanggulangan TBC.

Perkuat Penemuan Kasus melalui Peduli TB Lampung

Untuk memperkuat penemuan kasus, Pemprov Lampung memperkenalkan platform Peduli TB Lampung, sebuah inovasi yang digagas bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Platform tersebut ditujukan untuk memudahkan masyarakat melakukan skrining awal secara mandiri sekaligus mendukung integrasi skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Uji coba Peduli TB Lampung di RSUD Abdul Moeloek, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dan RS Muhammadiyah Metro telah menjangkau lebih dari 1.000 orang.

Jihan berharap platform tersebut dapat diperluas sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas, termasuk warga yang masuk ke Lampung melalui bandara dan pelabuhan.

Selain penemuan kasus, Pemprov Lampung juga memberikan perhatian terhadap kondisi tempat tinggal pasien TBC dari keluarga tidak mampu. Sebanyak 367 usulan rumah tidak layak huni (RTLH) bagi pasien TBC telah diajukan, dengan 217 usulan di antaranya telah terverifikasi sebagai calon penerima.

Pemprov Lampung turut memperkuat investigasi kontak. Saat ini capaian investigasi kontak kasus bakteriologis berada di kisaran 63 persen, sementara target yang ditetapkan mencapai 90 persen.

Jihan meminta setiap pasien TBC yang ditemukan segera diikuti dengan pemeriksaan terhadap anggota keluarga maupun orang-orang yang memiliki kontak erat.

Keberhasilan Pengobatan Lampung Capai 92 Persen

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, menilai Lampung memiliki kinerja pengobatan TBC yang sangat baik.

Ia menyebut tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Lampung mencapai sekitar 92 persen dan termasuk yang tertinggi secara nasional.

“Kalau perkara ngobatin sudah pasti bagus. Keberhasilan pengobatan TBC juga bagus, Lampung 92 persen, bahkan nomor satu di Indonesia,” kata Benjamin.

Namun, ia mengingatkan bahwa tingginya angka keberhasilan pengobatan belum cukup untuk menurunkan kasus TBC apabila penemuan dan pencegahan belum diperkuat.

Karena itu, Kementerian Kesehatan menyiapkan pemeriksaan menggunakan x-ray portable dan NPOC untuk memperkuat penemuan kasus secara aktif.

Di Lampung, pemeriksaan aktif tersebut akan dilakukan di 15 kabupaten dan kota dengan sekitar 1.571 titik lokasi. Kementerian Kesehatan juga menyiapkan 26 unit x-ray portable serta perangkat NPOC untuk mendukung pemeriksaan di 322 puskesmas.

Jihan menegaskan dukungan tersebut harus diikuti kerja lapangan yang terstruktur, mulai dari penemuan kasus, pengobatan hingga tuntas, investigasi kontak, pemberian terapi pencegahan, hingga perbaikan lingkungan tempat tinggal pasien.

“Kita semua mempunyai cara pandang yang sama bahwa eliminasi tuberkulosis tidak akan tercapai hanya dengan mengobati,” tegasnya.

Ia berharap Lampung dapat menjadi salah satu provinsi yang memimpin percepatan eliminasi TBC di Indonesia menuju target Indonesia bebas TBC 2030.

Percepatan penanggulangan TBC tersebut pada akhirnya ditujukan untuk melindungi keluarga dan masyarakat dari penularan, menjaga penduduk usia produktif tetap sehat dan produktif, serta mengurangi beban sosial ekonomi akibat penyakit.

Dengan semakin banyak kasus ditemukan lebih awal, segera diobati, kontak serumah diperiksa, dan terapi pencegahan diberikan, Pemprov Lampung optimistis rantai penularan TBC dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat semakin baik.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading

Lampung

UPTD Harapan Bangsa Berinovasi, Sulap Pertanian Jadi Inkubator Bisnis Anak Asuh

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Lampung Selatan-
Panti sosial tidak lagi hanya sekadar menjadi tempat pengasuhan. Di UPTD Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PSAA) Harapan Bangsa, Dinas Sosial Provinsi Lampung, yang berlokasi di Kalianda, Lampung Selatan. Anak asuh dibekali untuk belajar mandiri melalui konsep Bee Edu Social Integrated Farming.

Program tersebut dikembangkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus pemberdayaan anak asuh, karyawan panti dan masyarakat sekitar. Konsepnya mengintegrasikan kegiatan pendidikan sosial dengan pertanian dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Kepala UPTD PSAA Harapan Bangsa Dinas Sosial Provinsi Lampung, Drs. Koharuddin, MM, mengatakan pengembangan pertanian terpadu diarahkan agar lingkungan panti tidak hanya menjadi tempat tinggal dan pengasuhan, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak untuk memperoleh keterampilan praktis.

“Tidak ada limbah atau sampah yang dibakar. Semuanya kita manfaatkan menjadi kompos dan pupuk organik,” ujar Koharuddin, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian anak asuh sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih produktif. Anak-anak mendapatkan pengalaman langsung dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungan panti.

Konsep yang dikembangkan UPTD PSAA Harapan Bangsa tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam. Social Integrated Farming ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan dan pemberdayaan.

Melalui kegiatan tersebut, anak asuh dapat belajar mengenal proses produksi, pemanfaatan limbah organik, pembuatan kompos dan pupuk organik hingga bagaimana sebuah kegiatan produktif dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

Dengan demikian, pertanian menjadi laboratorium kehidupan bagi anak asuh untuk membangun keterampilan, kreativitas, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Materi program yang ditampilkan UPTD PSAA Harapan Bangsa juga menempatkan sejumlah pilar utama, yakni pengasuhan holistik berbasis usia, pembentukan karakter, kemandirian serta kreativitas dan inovasi, pendidikan sosial terpadu, serta implementasi dan evaluasi berkelanjutan.

Pendekatan itu diarahkan untuk melahirkan anak asuh yang tidak hanya mendapatkan pengasuhan, tetapi juga memiliki bekal keterampilan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Koharuddin menjelaskan, salah satu gagasan yang ingin dibangun adalah menjadikan UPTD PSAA Harapan Bangsa sebagai social enterprise inkubator bisnis.

Artinya, berbagai kegiatan produktif yang ada di lingkungan panti diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi anak asuh sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi.

“Ini menjadi sarana belajar dan latihan bagi anak asuh untuk kemandirian dan ketahanan pangan,” katanya.

Konsep tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan bekal kepada anak asuh agar tidak selalu bergantung setelah menyelesaikan masa pengasuhan.

Mereka diharapkan memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang, mengelola usaha dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dari Sampah Menjadi Manfaat

Salah satu prinsip yang ditekankan dalam program ini adalah mengubah limbah menjadi sumber daya.

Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan diolah kembali menjadi kompos maupun pupuk organik. Pola tersebut menciptakan siklus yang lebih ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi kegiatan pertanian di lingkungan panti.

Bagi anak asuh, proses tersebut menjadi pengalaman penting. Mereka tidak hanya diajarkan teori tentang menjaga lingkungan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Konsep ini juga membuka ruang keterlibatan karyawan panti dan masyarakat sekitar sehingga manfaat program tidak berhenti di lingkungan UPTD.

Dalam konsep dampak program, UPTD PSAA Harapan Bangsa menargetkan sejumlah perubahan, mulai dari terbentuknya anak yang mandiri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, panti yang lebih produktif, peningkatan kesejahteraan hingga menjadi role model.

Kemandirian anak menjadi salah satu tujuan utama. Sebab, keberhasilan sebuah lembaga pengasuhan bukan semata-mata diukur dari terpenuhinya kebutuhan anak selama berada di panti, tetapi juga dari sejauh mana mereka memiliki kemampuan menghadapi kehidupan setelah keluar dari lembaga tersebut.

Karena itu, pengembangan keterampilan berbasis pertanian, kewirausahaan dan ketahanan pangan menjadi investasi jangka panjang.

Di sisi lain, konsep social enterprise juga diharapkan dapat menjadi salah satu model penguatan keberlanjutan program serta ketahanan finansial bagi ekosistem panti, termasuk karyawan.

Jika dikelola secara konsisten, UPTD PSAA Harapan Bangsa berpotensi berkembang bukan hanya sebagai lembaga pengasuhan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, pertanian terpadu dan inkubasi kewirausahaan sosial.

Model tersebut menjadi menarik karena menggabungkan tiga hal sekaligus: pengasuhan anak, keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.

Pada akhirnya, lahan dan lingkungan panti bukan hanya tempat beraktivitas, tetapi dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar bahwa kemandirian tidak cukup hanya diajarkan—kemandirian harus dilatih dan dipraktikkan sejak dini. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading