DPRD
Terpilih Aklamasi, Budi Yuhanda Janji Bakal Besarkan HPDKI Lampung
Alteripost.co, Bandarlampung-
Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Lampung menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di Bandarlampung, Jumat (11/2/2022)
Kegiatan Musda yang dihadiri Kepala Dinas Peternakan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, DPP HPDKI dan perwakilan peternak se provinsi Lampung.
Berdasarkan instruksi DPP HPDKI, karena berakhirnya masa jabatan kepengurusan yang lama yang diketuai oleh Hasrat Tanjung, harus melaksanakan musda untuk memilih ketua yang baru.
Berdasarkan hasil musyawarah dan pernyataan sikap dari masing-masing perwakilan peternal se provinsi lampung, Budi Yuhanda yang juga ketua komisi 2 DPRD Provinsi Lampung terpilih secara aklamasi untuk menjabat Ketua Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia Provinsi Lampung Periode 2022-2027
Dalam sambutannya, Budi Yuhanda mengucapkan terima kasih atas amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada dirinya. Kita akan besarkan HPDKI bersama dan merangkul semua elemen baik para peternak, akademisi hingga dr hewan.
Ia menyatakan siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Tujuan HPDKI tidak lain adalah untuk kesejahteraan para peternak.
“Kita akan susun program Kerja agar para peternak lampung dapat menjadi peternak yang handal dan mandiri,” ucapnya. (Rls)
DPRD
DPRD Lampung Minta Penggunaan Jebakan Tikus Berlistrik Dihentikan Setelah Makan Korban Jiwa
Alteeipost Bandar Lampung – Anggota DPRD Provinsi Lampung Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua warga Dusun Rejomulyo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, yang diduga tersengat aliran listrik dari jebakan tikus di area persawahan.
Korban diketahui bernama Enok (63) dan anaknya, Darmi (35). Keduanya ditemukan meninggal dunia pada Jumat (3/7/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. Berdasarkan informasi yang beredar, keduanya diduga tersengat aliran listrik yang dipasang sebagai jebakan tikus di sawah milik Edi Apriawan alias Juna (41).
Mikdar Ilyas menyebut peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh petani agar tidak lagi menggunakan aliran listrik sebagai perangkap tikus karena berisiko tinggi membahayakan keselamatan manusia.
“Atas nama Komisi II DPRD Provinsi Lampung, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Mikdar, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, meskipun pemilik sawah mengetahui adanya aliran listrik yang dipasang, masyarakat atau orang lain yang melintas belum tentu mengetahui keberadaan jebakan tersebut sehingga berpotensi menimbulkan korban jiwa.
“Karena itu kami mengimbau seluruh petani agar tidak lagi menggunakan aliran listrik sebagai perangkap tikus. Cara seperti ini sangat berbahaya dan berisiko memakan korban,” tegasnya.
Mikdar menjelaskan, pemerintah melalui Dinas Pertanian telah menyediakan alternatif pengendalian hama tikus berupa bantuan obat pembasmi tikus. Bantuan tersebut dapat diakses melalui Dinas Pertanian kabupaten dengan berkoordinasi bersama Dinas Pertanian Provinsi Lampung.
Ia mendorong para petani, terutama yang membutuhkan dan kurang mampu, agar memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga tidak lagi menggunakan metode yang membahayakan keselamatan.
“Silakan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Ada bantuan obat pembasmi tikus yang memang disiapkan pemerintah untuk membantu petani, terutama yang kurang mampu,” katanya.
Di sisi lain, Mikdar mengakui serangan hama tikus saat ini menjadi persoalan yang dikeluhkan petani di berbagai daerah di Lampung. Menurutnya, masalah tersebut akan menjadi perhatian serius Komisi II DPRD Provinsi Lampung.
“Kami banyak menerima keluhan dari petani padi, jagung hingga singkong. Serangan tikus sudah sangat luar biasa dan ini akan kami bahas bersama dinas terkait, termasuk dalam pembahasan anggaran,” ujarnya.
Ia juga memastikan akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Fraksi Gerindra di DPR RI agar diteruskan kepada Kementerian Pertanian. Langkah itu diharapkan dapat memperkuat program pengendalian hama tikus sehingga mampu mencegah gagal panen sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
“Masalah hama tikus ini tidak bisa dianggap sepele. Dampaknya besar terhadap hasil panen petani dan target ketahanan pangan. Karena itu perlu penanganan yang serius dari semua pihak,” pungkasnya.(*)

