Berita Utama
Dinilai Tak Efektif Tangani Pandemi, DPRD Lampung Didesak Tegur Gubernur
Alteripost.co, Bandarlampung-
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung didesak mengambil sikap dan menegur Eksekutif dalam hal ini Gubernur Arinal, mengenai kondisi Provinsi Lampung yang masuk dalam 10 daerah yang diperintahkan Presiden Jokowi, agar lebih sigap merespon perkembangan Pandemi dan lonjakan kasus Covid-19.
“Supaya tidak seperti autopilot, Anggota DPR-RI, DPD-RI dan DPRD Provinsi bilang dong ke Gubernur, beneran apa nggak merasa malu dan terganggu dengan peringatan dari Jenderal Doni Monardo tentang tingginya angka Kematian yang masih dua kali lipat rata-rata nasional, dan himbauan Wapres KH Ma’ruf Amien tentang percepatan vaksinasi yang masih di bawah rata-rata nasional,”kata pemerhati pembangunan Lampung, Nizwar Affandi, Sabtu (1/5/2021).
Ia menilai, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi cenderung kepala batu, dan tidak bisa move on meski Ketua Satgas Nasional bahkan Wapres telah memberi peringatan.
Gubernur Arinal ini entah keras kepala atau nggak bisa move on, walaupun 20 Maret lalu sudah diingatkan oleh Ketua Satgas Nasional dan tanggal 22 Maret dihimbau oleh Wapres, tetap saja pada pembukaan Musrenbang tanggal 12 April beliau masih terus membanggakan penghargaan lomba buat video New Normal yang didapat di bulan Juni,”urai Affan.
Affan menduga, meski Presiden Jokowi sudah mengingatkan, Namun Arinal diprediksi akan kembali bernostalgia dengan membanggakan penghargaan lomba video. Meski kondisi berbanding terbalik yang terjadi saat ini
“Sepertinya sekarang pun, walau sudah dIingatkan Presiden Jokowi dalam pidato di Istana, Gubernur Arinal diprediksi bakal terus mengulang-ulang untuk membanggakan hal yang sama, dan para Legislator Lampung baik yang di pusat maupun di daerah juga tetap biasa-biasa saja, seperti tidak ada apa-apa,” piluhnya.
Usai diberi peringatan oleh Ketua Satgas nasional beberapa waktu lalu, Affan mengaku sudah menulis hal tersebut, Namun meski telah dihimbau oleh Wapres tidak ada Langkah yang signifikan dari Pemprov untuk mengatasinya.
“Saya sudah tuangkan dalam tulisan sepuluh hari yang lalu bahwa angka kematian sebulan terakhir (setelah diberi peringatan oleh Ketua Satgas Nasional) justru malah semakin naik dan selama sebulan ini sejak dihimbau Wapres juga relatif tidak ada percepatan yang signifikan dari kerja vaksinasi,”tandasnya.
Diketahui, Provinsi Lampung termasuk dalam 10 daerah yang ditegur oleh Presiden Joko Widodo dalam penanganan Korona.
Sebelumnya, dilansir dari laman CNNIndonesia.com, Presiden Joko Widodo menyebut jumlah kasus Covid-19 -19 mulai merangkak naik di 10 daerah di antaranya Sumatera Selatan, Aceh dan Lampung. Jokowi mengaku memantau data perkembangan kasus di seluruh daerah setiap waktu.
Atas kondisi tersebut, dia pun meminta pemerintah daerah sigap merespons perkembangan pandemi. Dia tak ingin lonjakan jumlah kasus Covid-19 kembali terjadi di Indonesia.
“Saya melihat beberapa daerah sudah mulai terjadi kenaikan. Perlu saya sampaikan hati-hati. Di daerah-daerah Sumatera Selatan, Aceh, Lampung, Jambi, Kalbar, NTT, Riau, Sumbar, Bengkulu, Kepri, hati-hati ada kenaikan,” kata Jokowi dalam Pengarahan Presiden RI kepada Kepala Daerah se-Indonesia Tahun 2021 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (29/4).(rls/Gus)
Berita Utama
Gaya Koboi Kadis PSDA Lampung Berpotensi Mengancam Kebebasan Pers
Alteripost.co, Bandarlampung-Menugungang kuda, bergerak tak takut apa pun dan menenteng sebuah pistol seperti seorang koboi di film-film Hollywood membuat diri setiap pemainnya merasa jumawa. Namun jika seorang pejabat publik bersikap dan berlagak seperti seorang koboi, apakah pantas?
Baru-baru ini, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Lampung Febrizal Levi Sukmawan mengeluarkan pernyataan bak seorang koboi di film Hollywood.
Dari rekaman suara yang beredar, bukannya membuat suasana semakin membaik, justru Kadis PSDA Lampung tersebut mengeluarkan nada ancaman disertai makian dan bakal mengebuk seorang jurnalis.
Dalam potongan percakapan suara yang beredar tersebut, tersebut Levi menyampaikan keberatannya terkait posisi wartawan yang disebutnya menghalangi pandangan saat forum berlangsung.
“Gua itu duduk di situ, gua ini kan tamu. Tapi kan dihalangi pandangan gua, di depan kan wartawan semua. Gua mau lihat itu,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Levi menjelaskan bahwa dirinya ingin melihat jalannya forum, termasuk timer yang digunakan untuk mengatur durasi pembicara.
“Pembicara itu Bunda Eva, Roy, itu kan mau lihat timer. Tapi nggak kelihatan karena dihalangi,” katanya.
Namun, pernyataan Levi tidak berhenti pada penjelasan tersebut. Dalam percakapan yang sama, ia juga menyebut nama salah satu jurnalis, Wildan Hanafi, dengan nada seperti koboi.
“Bukan Wildan saja, tapi ka*pang Wildan itu… gua gebuk bener Wildan, gua suruh cari Wildan, wartawan mana dia ha Kandidat” ucapnya.
Tak hanya itu, Levi juga mengaku akan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari yang bersangkutan.
“Gua cari, nanti gua suruh Se*ta, gua gerakin orang-orang gua… malam ini gua cari dia, biar dia tahu,” lanjutnya.
Levi juga membantah bahwa dirinya yang secara langsung mengusir wartawan dari posisi tersebut.
“Yang ngusir juga bukan gua. Gua duduk di situ aja. Tapi pandangan gua tertutup,” katanya.
Meski demikian, pernyataan lanjutan Levi kembali menuai sorotan karena dinilai bernada ancaman.
“Suruh minta maaf sama gua, suruh buat klarifikasi. Kalau enggak, awas dia,” tegasnya.
Tentunya, dengan gaya koboi dari Kadis PSDA Lampung tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, terutama terkait keamanan dan berpotensi mengancam kebebasan pers dalam menjalankan tugas peliputan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak terkait mengenai maksud dan konteks pernyataan tersebut.
Peristiwa ini pun menjadi perhatian, mengingat pentingnya menjaga hubungan profesional antara pejabat publik dan insan pers dalam menjamin keterbukaan informasi kepada masyarakat. (Gus/rls)

