Connect with us

Lampung

Seratusan Anggota Satpol PP Provinsi Lampung Gelar Latihan Bersama Simulasi Penanganan Unras

Published

on

Foto: Sejumlah anggota Satpol PP Provinsi Lampung saat menggelar simulasi penanganan Unras (istimewa)

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Lampung bersama Polda Lampung dan Satpol PP Kota Bandarlampung menggelar latihan bersama dalam rangka penanganan Unjuk Rasa (Unras) di Lapangan Korpri Komplek Perkantoran Pemprov Lampung, Rabu (21/9/22).

Latihan bersama dan simulasi penanganan Unras ini diikuti 120 personil gabungan yang terdiri dari 45 personil Satpol PP Provinsi Lampung, 45 personil Polda Lampung dan 30 personil Satpol PP Bandar Lampung.

Kabid SDM Satpol PP Provinsi Lampung Indra Sanjaya menjelaskan bahwa latihan simulasi ini dilaksanakan, untuk memberikan wawasan kepada anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan anggota Direktorat Samapta dalam rangka pencegahan serta penanganan unjuk rasa.

“Selain itu, latihan ini dilaksanakan untuk menjalin komunikasi yang baik lintas sektoral dengan aparat keamanan, dalam hal ini Polda Lampung, sehingga terjalin sinergitas dan kerjasama yang baik,” kata Indra Sanjaya.

Indra juga menjelaskan bahwa anggota Pol PP harus memiliki kompetensi teknis pengendalian massa dalam menghadapi Unras dan pengamanan aksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Tidak ada ahli yang instan. Semua harus rajin berlatih, sehingga kita bisa memupuk diri dan mengasah kompetensi kita,” ucap Indra.

Di akhir kegiatan, Indra mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak dan narasumber dari Polda Lampung yang telah berpartisipasi dalam kegiatan latihan berupa pemberian materi dan simulasi penanganan selama dua hari ini.

Sementara itu, AKP Arianto, Ipda Yusparzon dan Aipda Dharma Putra dari Direktorat Samapta Polda Lampung dalam simulasi penanganan unjuk rasa memberikan materi pelatihan dasar-dasar pengendalian unjuk rasa diantaranya dalmas awal, dalmas lanjut, sikap pokok, tangan berkait, tali dalmas, formasi dalmas, penggunaan alat dalmas (helm, tongkat, tameng) serta negosiasi dan simulasi penanggulangan unjuk rasa. (rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lampung

Manajemen RSUDAM Bantah Isu Puluhan Pegawai Tak Menerima Bayaran Klaim BPJS

Published

on

Foto: Dirut RSUDAM Imam Ghozali

Alteripost.co, Bandarlampung-
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung, dr. Imam Ghozali, membantah adanya puluhan pegawai yang tidak menerima pembayaran meski klaim pelayanan telah dibayarkan oleh BPJS Kesehatan.

Imam mengatakan setiap data pembayaran harus melalui proses verifikasi berlapis karena berkaitan dengan penggunaan uang negara.

Menurut dia, perbedaan antara data tagihan dan pembayaran tidak serta-merta menunjukkan adanya pegawai yang belum menerima haknya.

“Begitu diverifikasi, kalau masih ada data kosong, dikembalikan untuk diperbaiki. Karena ini menyangkut uang negara, pengeluarannya tidak bisa sembarangan dan harus diverifikasi dengan betul,” kata Imam usai mengikuti Rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPRD Lampung pada Senin, (5/10/2026).

Ia mencontohkan adanya informasi mengenai tagihan BPJS untuk 100 orang.

Dalam data tertentu, disebut hanya 60-70 orang yang tercatat telah dibayarkan, sementara sisanya seolah belum menerima pembayaran.

Menurut Imam, informasi tersebut tidak tepat jika kemudian disimpulkan terdapat 30 pegawai yang belum dibayar.

“Tidak benar. Tata kelola remunerasi itu tidak bisa seperti itu,” ujarnya.

Imam menjelaskan pembayaran remunerasi di RSUDAM menggunakan sistem berbasis poin.

Besaran remunerasi mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain jabatan, pendidikan, unit kerja, serta tingkat risiko pekerjaan.

“Sudah masuk dalam satu sistem pembayaran remunerasi. Jadi tidak ada 100 orang, lalu hanya 60 yang dibayar. Itu tidak mungkin terjadi,” katanya.

Beralih dari Sistem Pihak Ketiga

Selain persoalan remunerasi, Imam menjelaskan pembenahan sistem informasi manajemen rumah sakit atau SIM-RS.

Menurut dia, digitalisasi merupakan bagian dari tuntutan kebijakan pemerintah pusat terhadap pengelolaan rumah sakit.

RSUDAM sebelumnya menggunakan jasa pihak ketiga dalam pengembangan SIM-RS.

Namun, dalam perjalanannya, rumah sakit menilai sistem tersebut belum memberikan efisiensi yang diharapkan.

RSUDAM kemudian mencoba mengembangkan sistem secara internal. Namun, langkah tersebut menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.

“Core business saya adalah pelayanan. Saya tidak perlu membagi energi atau pemikiran untuk hal-hal IT,” kata Imam.

Menurut dia, sebagian besar sumber daya manusia RSUDAM merupakan tenaga medis seperti dokter dan perawat.

Sementara tenaga yang memiliki kompetensi khusus di bidang teknologi informasi terbatas.

Karena itu, rumah sakit kembali mempertimbangkan penggunaan pihak ketiga yang memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi.

Imam menyebut ada tiga pertimbangan utama dalam penggunaan sistem tersebut, yakni kemudahan, efisiensi, dan kemudahan penggunaan oleh tenaga rumah sakit.

Sistem itu juga dituntut mampu mendukung pelayanan digital, termasuk akses terhadap rekam medis dan hasil pemeriksaan dari luar rumah sakit.

“Yang paling penting keamanannya. Jadi tidak bisa sembarangan. Masa tugas itu harus dibebankan kepada perawat lagi? Tidak mungkin,” ujarnya.

Digitalisasi tersebut juga berkaitan dengan tuntutan integrasi sistem kesehatan nasional.

RSUDAM, kata Imam, harus mampu melakukan integrasi dengan platform Satu Sehat dan mengurangi penggunaan proses manual.

DPRD Minta Kendala Pelayanan Dibuka

Sementara itu, Ketua Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Yanuar Irawan, mengatakan pihaknya ingin memastikan pembayaran dan pelayanan publik di RSUDAM tidak terganggu oleh persoalan administrasi maupun sistem.

“Kami ingin tahu dan memastikan bahwa pelayanan publik itu tidak terganggu. Teman-teman di Abdul Moeloek sudah melakukan itu secara maksimal. Kalau ada kendala, apa kendalanya, nanti kita bahas bersama-sama,” kata Yanuar.

Menurut Yanuar, evaluasi terhadap rumah sakit tetap diperlukan, terutama berkaitan dengan sumber daya manusia yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Ia mengatakan masih terdapat kebutuhan edukasi bagi pegawai agar kualitas pelayanan kepada masyarakat semakin baik.

“Memang masih perlu edukasi-edukasi, khususnya bagi pegawai kita yang langsung berhadapan dengan masyarakat,” ujarnya.

Yanuar mengakui rumah sakit sebagai institusi pelayanan publik tidak mungkin terbebas sepenuhnya dari kendala.

Namun, ia menegaskan persoalan yang bersifat prinsip harus mendapat perhatian DPRD.

“Kalau yang sifatnya prinsip, kami tidak bisa diam. Semua yang disampaikan sudah kami tanyakan. Itu yang kemudian dijelaskan oleh Pak Direktur kepada kami,” tutup Yanuar. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading