Ruwajurai
Srikandi Gerindra Peduli Petani, Salurkan Benih Jagung di Lampung Tengah
Alteripost.co, Lampung Tengah-
Srikandi Gerindra Ir. Dwita Ria Gunadi, yang juga anggota Komisi IV DPR RI kembali menyalurkan Bantuan berupa 1.100 hektar benih jagung jenis Hibrida untuk Kabupaten Lampung Tengah.
Benih jagung hibrida NK22 sampai di kecamatan Putra Rumbia menggunakan 3 unit Truk Fuso dan langsung disalurkan melalui Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Partai Gerindra Ibu Sihyem, kepada masing-masing kelompok yg tersebar di 11 Desa di Kecamatan Putra Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah.
Dwita Ria berharap, benih jagung yang baik ini dapat bermanfaat bagi para petani penerima manfaat Bantuan Jalur Aspirasi DPR RI.
“Alhamdullilah sudah kita realisasikan, mohon dimanfaatkan sebaik-baiknya, ikuti petunjuk dan arahan dari penyuluh pertanian di lapangan juga pendamping dari suplayer benih,” ujarnya.
Dwita Ria menghimbau, agar benih jagung ini diberikan asupan yang baik, supaya hasil panennya optimal.
“Benih jagung yg di diminta oleh kelompok tani adalah jenis hibrida NK 22 dan untuk mendapat hasil yg maksimal, pupuk harus diberikan juga sesuai rekomendasi jagung hibrida. Harga benih ini cukup mahal perkilo mencapai 43 rb rupiah. Benih jagung diturunkan di Kecamatan Putra Rumbia untuk 1.100 ha, dengan kebutuhan per ha 15 kg, artinya nilai bantuan ini sebesar 710 juta rupiah,” tambahnya.
Selain itu, Dwita Ria juga meminta agar Seluruh pihak terkait di daerah seperti Dinas Pertanian, UPTD, penyuluh, suplayer benih harus berkerja sama dalam memberikan pendampingan kepada kelompok tani. Karena hasil dari panen jagung di Kecamatan Putra Rumbia akan menjadi penyumbang bagi keberhasilan pertanian di Kabupaten Lampung Tengah. (Rls)
Ruwajurai
BI Lampung: Inflasi 0,19 Persen, Stabil di Tengah Tekanan Global
Alteripost Lampung – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 0,36 persen (mtm). Angka ini juga sejalan dengan rata-rata inflasi Februari dalam tiga tahun terakhir yang berada di level 0,19 persen.
Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat sebesar 1,16 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen (yoy).
Inflasi Maret terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras (0,05 persen), bensin (0,04 persen), telur ayam ras (0,03 persen), dan beras (0,03 persen).
Kenaikan harga pangan tersebut dipicu meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.
Sementara itu, kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina pada 1 Maret 2026, seiring dinamika harga minyak global.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Cabai merah dan tomat masing-masing memberikan andil deflasi sebesar -0,09 persen dan -0,02 persen (mtm), seiring meningkatnya pasokan dari sentra produksi di Pesawaran dan Lampung Tengah.
Selain itu, penurunan harga emas dunia turut menekan harga emas perhiasan dengan andil -0,02 persen.
Ke depan, Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan (KPw) Lampung memprakirakan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai.
Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan akibat kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen yang direalisasikan bertahap sepanjang 2026, serta potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, pada komponen volatile food, risiko dipicu oleh rendahnya realisasi tanam akibat curah hujan tinggi pada Maret 2026 yang berpotensi menekan hasil panen. Selain itu, berdasarkan analisis BMKG, curah hujan diprakirakan rendah pada April–September, serta adanya potensi El Nino lemah pada semester II yang dapat mengganggu produksi pangan dan hortikultura.
Dari sisi administered prices, risiko inflasi berasal dari potensi kenaikan harga BBM akibat fluktuasi harga minyak dunia, serta dampak lanjutan kenaikan tarif Tol Lampung ruas Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi dan harga barang.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah konkret yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, penguatan kerja sama antar daerah, perbaikan distribusi pangan, hingga optimalisasi komunikasi publik guna menjaga ekspektasi inflasi di tengah ketidakpastian global.(*)

