Ekonomi dan Bisnis
Dukung Program Pemerintah Bank Lampung Beri Kemudahan Penyaluran KUR
Alteripost Bandar Lampung – Bank Lampung konsisten menunjukan komitmenya mendukung Program Pemerintah Provinsi Lampung dengan memberikan kemudahan dalam menyalurkan KUR bagi para pelaku UMKM untuk mendorong perekonomian Provinsi Lampung. Bahkan wujud komitmen itu diusung dalam tema HUT Bank Lampung Ke – 58 mengusung yaitu “Bank Lampung telah hadir di UMKM”.
“Dalam mendukung Program Kartu Petani Berjaya (KPB), Bank Lampung Per 31 Desember 2023 telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 889 Milyar untuk 12.842 orang debitur, pada sektor ekonomi pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan” ujar Direktur Utama Bank Lampung Presley Hutabarat, Kamis (21/3/2024).
Bagaimana untuk penyaluran kredit produktif ? untuk penyaluran kredit produktif pada tahun 2023 sebesar Rp 2.10 T dan angka ini meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 1.37 triliun atau tumbuh 53.31%. Untuk Kredit Konsumtif sebesar Rp 4.86 T meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 4.82 triliun atau tumbuh 0.79%.
“Secara keseluruhan komposisi kredit Bank Lampung saat ini 30.18% penyaluran kredit produktif dan 69.82% kredit konsumtif. menandakan makin bertambahnya peran Bank Lampung dalam peningkatan perekonomian di Lampung” jelasnya.
Untuk kinerja Bank Lampung sendiri, per 31 Desember 2023 kinerja performa keuangan (Auditted) dan Pertumbuhan Bisnis tumbuh membanggakan, diantarannya posisi aset sebesar Rp 10,327 triliun atau tumbuh Rp 169 Miliar dari posisi tahun lalu. Sebesar
Rp 10,209 triliun;
Naiknya volume usaha tersebut ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai Rp. 6,958 triliun tumbuh Rp 769 Miliar dari Posisi tahun lalu sebesar Rp 6.189 Triliun dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga sebesar Rp. 7,74 triliun. Laba Bank Lampung per 31 Desember 2023 (auditted) mencapai Rp.175 miliar. (“)
Ekonomi dan Bisnis
Mengulas Kenaikan BI Rate ke 5,75, Apakah Sudah Efektif Dalam Menjaga Stabilitas Rupiah?
Alteripost.co, Nasional-
Posisi rupiah sempat beberapa hari menguat di saat Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-rate menjadi 5,75 persen. Namun, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat kembali melemah ke level sekitar Rp.17.950. Hal ini memicu pertanyaan, apakah langkah Bank Indonesia sudah cukup efektif dalam menjalankan kebijakan moneternya?.
Dalam beberapa bulan terakhir, patut diakui bahwa Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah strategis. Suku bunga dinaikkan, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dibuat semakin menarik, dan berbagai instrumen moneter digunakan untuk menjaga stabilitas Rupiah. Kebijakan ini dijalankan di tengah situasi global yang sedang tak bersahabat.
Penguatan Dollar Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan arah kebijakan bank sentral negara maju memang memberikan tekanan yang tidak ringan bagi hampir seluruh negara berkembang (emerging markets).
Pihak Bank Indonesia (BI) menegaskan kenaikan BI Rate sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 5,75 persen merupakan bagian dari upaya mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa waktu lalu.
Selain itu, suku bunga deposit facility juga meningkat sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.
Tentunya kita sebagai masyarakat terus menanti kebijakan-kebijakan strategis lainnya ke depan dari Institusi-instusi terkait, dalam menjaga keseimbangan pasar guna memperkuat ekosistem ekonomi dalam negeri.
Selain itu, kita juga sebagai masyarakat perlu berperan dan mendukung pemerintah dalam upaya-upaya yang sedang dan telah dilakukan. Seperti mencintai produk-produk lokal, menjaga kondusivitas, serta menciptakan iklim yang bersahabat untuk meningkatkan kepercayaan dari pihak investor baik dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.
Salam Hangat
Agus Sihotang

