Berita Utama
Juanda Naim Bantah Isu Terkait Kemenag Lampung Booking Sejumlah Hotel
Alteripost.co, Bandarlampung-
Wakil Ketua PWNU Lampung Muhammad Irfandi menyebut ada upaya indikasi sabotase Muktamar ke-34 yang akan dilaksanakan di Lampung pada Desember mendatang.
Menurut Irfan, berdasarkan survei yang dilakukan pada sejumlah hotel. Ia mendapati kamar di beberapa hotel khususnya yang berbintang tidak lagi tersedia untuk tanggal 22-26 Desember 2021.
“Hotel-hotel di Bandarlampung full booking pada waktu yang berbarengan dengan Muktamar atas nama Kementerian Agama,” ungkap Irfan seperti dilansir dari Lampost.co, Senin, (8/11/2021).
Di sisi lain, saat dikonfirmasi Selasa (09/11/2021), Kepala Kanwil (Kakanwil) Kemenag Lampung Juanda Naim membantah pernyataan dan tudingan dari Wakil Ketua PWNU Lampung Muhammad Irfandi.
Menurut Juanda, pernyataan Irfan tidak mendasar. Sepengetahuannya, pihaknya tidak pernah membooking sejumlah kamar di beberapa hotel di Kota Bandarlampung.
“Soal isu yang menyebutkan bahwa Kemenag Lampung membooking sejumlah kamar di beberapa hotel di Bandarlampung tidak benar. Yang jelas itu bukan dari kita, saya tidak tahu si Irfan dapat info dari mana,” pungkasnya. (Gus)
Berita Utama
Gaya Koboi Kadis PSDA Lampung Berpotensi Mengancam Kebebasan Pers
Alteripost.co, Bandarlampung-Menugungang kuda, bergerak tak takut apa pun dan menenteng sebuah pistol seperti seorang koboi di film-film Hollywood membuat diri setiap pemainnya merasa jumawa. Namun jika seorang pejabat publik bersikap dan berlagak seperti seorang koboi, apakah pantas?
Baru-baru ini, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Lampung Febrizal Levi Sukmawan mengeluarkan pernyataan bak seorang koboi di film Hollywood.
Dari rekaman suara yang beredar, bukannya membuat suasana semakin membaik, justru Kadis PSDA Lampung tersebut mengeluarkan nada ancaman disertai makian dan bakal mengebuk seorang jurnalis.
Dalam potongan percakapan suara yang beredar tersebut, tersebut Levi menyampaikan keberatannya terkait posisi wartawan yang disebutnya menghalangi pandangan saat forum berlangsung.
“Gua itu duduk di situ, gua ini kan tamu. Tapi kan dihalangi pandangan gua, di depan kan wartawan semua. Gua mau lihat itu,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Levi menjelaskan bahwa dirinya ingin melihat jalannya forum, termasuk timer yang digunakan untuk mengatur durasi pembicara.
“Pembicara itu Bunda Eva, Roy, itu kan mau lihat timer. Tapi nggak kelihatan karena dihalangi,” katanya.
Namun, pernyataan Levi tidak berhenti pada penjelasan tersebut. Dalam percakapan yang sama, ia juga menyebut nama salah satu jurnalis, Wildan Hanafi, dengan nada seperti koboi.
“Bukan Wildan saja, tapi ka*pang Wildan itu… gua gebuk bener Wildan, gua suruh cari Wildan, wartawan mana dia ha Kandidat” ucapnya.
Tak hanya itu, Levi juga mengaku akan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari yang bersangkutan.
“Gua cari, nanti gua suruh Se*ta, gua gerakin orang-orang gua… malam ini gua cari dia, biar dia tahu,” lanjutnya.
Levi juga membantah bahwa dirinya yang secara langsung mengusir wartawan dari posisi tersebut.
“Yang ngusir juga bukan gua. Gua duduk di situ aja. Tapi pandangan gua tertutup,” katanya.
Meski demikian, pernyataan lanjutan Levi kembali menuai sorotan karena dinilai bernada ancaman.
“Suruh minta maaf sama gua, suruh buat klarifikasi. Kalau enggak, awas dia,” tegasnya.
Tentunya, dengan gaya koboi dari Kadis PSDA Lampung tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, terutama terkait keamanan dan berpotensi mengancam kebebasan pers dalam menjalankan tugas peliputan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak terkait mengenai maksud dan konteks pernyataan tersebut.
Peristiwa ini pun menjadi perhatian, mengingat pentingnya menjaga hubungan profesional antara pejabat publik dan insan pers dalam menjamin keterbukaan informasi kepada masyarakat. (Gus/rls)

