Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Gedung Baru Bank Lampung Diresmikan Gubernur Arinal

Published

on

Foto: istimewa for Alteripost.co

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melakukan pemotongan pita sebagai tanda diresmikannya Gedung Baru Bank Lampung Kantor Cabang Bandar Lampung yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi No. 182 Teluk Betung, Rabu (22/02/2023).

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Arinal Djunaidi menyampaikan ucapan selamat atas peresmian gedung baru Bank Lampung ini.

“Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, saya menyampaikan ucapan selamat atas diresmikannya gedung baru ini. Semoga dengan penggunaan kantor baru ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga dapat memenuhi ekspektasi para nasabah terhadap Bank Lampung dan sekaligus memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan sektor ekonomi di Provinsi Lampung”. Ucapnya.

Gubernur mengatakan, bahwa pembangunan gedung baru Bank Lampung ini merupakan wujud komitmen Pemprov Lampung dalam mendukung Bank Lampung. Jelasnya.

“Sebagai bentuk komitmen Pemprov Lampung sebagai Pemegang Saham Pengendali untuk mendukung pemenuhan kewajiban Modal Inti dimaksud, Pemprov Lampung telah melakukan penambahan Modal Setor berupa Inbreng Gedung senilai Rp 13,6 Milyar, yang pada hari ini diresmikan menjadi Kantor Baru Bank Lampung kantor cabang Bandar Lampung”. Ujarnya.

Kemudian Dengan penambahan modal setor berupa Inbreng Gedung dimaksud Gubernur berharap, Bank Lampung dapat terus tumbuh memberikan pelayanan dan kontribusi kepada masyarakat khususnya pada pembangunan Provinsi Lampung. Imbuhnya.

“Sepanjang Tahun 2022 Bank Lampung telah mengakomodir penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Provinsi Lampung sebesar Rp 373,2 Milyar dengan total transaksi sebanyak 138.440 transaksi. Selain pajak, Bank Lampung juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung Pemerintah Provinsi Lampung melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada Program Kartu Petani Berjaya, hingga Desember 2022 KUR yang telah disalurkan adalah sebesar Rp. 522,78 Milyar dengan jumlah debitur sebanyak 9.347 debitur. Jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur menyampaikan, dukungannya terhadap perubahan Bank Lampung ke arah Digitalisasi sehingga dapat memberikan kemudahan bagi bagi nasabah. “Dengan perubahan ke arah digitalisasi, saya mendorong Bank Lampung bertransformasi menjadi bank yang dapat melayani kebutuhan masyarakat dengan memberikan kemudahan bagi nasabah dalam melakukan transaksi dengan adanya Aplikasi Mobile Banking “L-Online”. Perluasan jaringan kantor dengan tersebarnya agen L-Smart di seluruh pelosok Provinsi Lampung, sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat”. Ucap Gubernur.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Lampung Presley Hutabarat dalam sambutannya juga menyampaikan harapannya atas peresmian gedung baru Bank Lampung ini.

“Semoga dengan adanya kantor baru ini Bank Lampung akan dapat memberikan pelayanan yang prima kepada para stakeholder, nasabah, masyarakat, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi Lampung”. Harapnya.

Gubernur Arinal Djunaidi didampingi oleh Direktur Utama Bank Lampung dan Dewan Direksi serta Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung melakukan pemotongan tumpeng dan penandatanganan prasasti sebagai tanda diresmikannya gedung baru Bank Lampung. (*)

Facebook Comments Box
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi dan Bisnis

OJK dan Pemprov Lampung Jajaki Penerbitan Obligasi Daerah Untuk Percepat Pembangunan

Published

on

Alteripost Bandar Lampung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menggelar pertemuan strategis di Kantor OJK Provinsi Lampung, Rabu (3/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas peluang penerbitan obligasi daerah dan/atau sukuk daerah sebagai alternatif pembiayaan pembangunan yang inovatif, berkelanjutan, serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan pembiayaan proyek-proyek strategis daerah tidak terkendala keterbatasan anggaran di masa mendatang.

Pertemuan yang dipimpin Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, dan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Dr. Ir. Mulyadi Irsan, M.T., menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi peluang serta persiapan yang diperlukan apabila Pemerintah Provinsi Lampung memanfaatkan instrumen pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

Instrumen obligasi maupun sukuk daerah dinilai dapat menjadi alternatif untuk mempercepat pembangunan proyek-proyek produktif yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Dalam diskusi tersebut juga dibahas berbagai aspek penting, mulai dari kesiapan regulasi, kapasitas fiskal daerah, tata kelola, pemilihan proyek yang layak dibiayai, hingga kemampuan pembayaran kembali agar kesehatan fiskal daerah dan kepercayaan investor tetap terjaga.

Kebutuhan akan instrumen obligasi atau sukuk daerah dinilai semakin relevan seiring penurunan Transfer ke Daerah (TKD) tahun 2026 dan keterbatasan APBD di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan infrastruktur guna mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Lampung untuk menjadi pionir nasional dalam pemanfaatan instrumen pembiayaan daerah. Selain menawarkan fleksibilitas pembayaran pokok saat jatuh tempo, obligasi dan sukuk daerah juga memungkinkan penentuan imbal hasil serta tenor yang sesuai kebutuhan, dilengkapi fitur buyback tanpa penalti dan fleksibilitas pendanaan bertahap untuk berbagai proyek.

Implementasi skema ini diharapkan dapat mendiversifikasi sumber pembiayaan pemerintah daerah, memperkuat tata kelola keuangan, mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), menciptakan lapangan kerja, serta membuka peluang investasi yang aman bagi masyarakat.

Ke depan, obligasi daerah maupun sukuk daerah berpotensi digunakan untuk mendukung berbagai proyek strategis, seperti pembangunan infrastruktur produktif, pengembangan ekonomi hijau, peningkatan konektivitas, pengelolaan lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Selain membahas instrumen pembiayaan daerah, forum tersebut juga mendiskusikan penyusunan Peta Jalan Pengelolaan Karbon Provinsi Lampung serta pengembangan Program DesaKu Maju Lampung “Agrifuture”. Ketiga agenda tersebut dinilai saling berkaitan dalam mewujudkan pembangunan Lampung yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Program DesaKu Maju menargetkan transformasi 2.446 desa di Provinsi Lampung menuju status maju dan mandiri. Program ini diawali melalui proyek percontohan di 30 desa yang tersebar di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.

Melalui pengembangan subsektor peternakan sapi potong, program ini menerapkan pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit unggul, pakan mandiri, dan pupuk hayati, hingga penggemukan ternak, pencatatan digital melalui e-Livestock, hilirisasi produk daging, pengolahan limbah berbasis zero waste, serta integrasi pasar.

Dengan skema kemitraan tertutup (close loop) bersama pihak swasta untuk meminimalkan risiko perbankan, fase awal atau quick wins selama 12 bulan pertama ditargetkan mampu mencetak 300 peternak muda aktif, membentuk 30 klaster komunal, serta mendirikan tiga koperasi peternak.

Menanggapi peluang tersebut, Mulyadi Irsan menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk segera membentuk tim khusus guna menindaklanjuti rencana penerbitan obligasi dan sukuk daerah, sekaligus menyusun regulasi pendukung Program DesaKu Maju Agrifuture.

“Pemerintah Provinsi Lampung juga akan melakukan deep dive analysis agar instrumen ini mampu memberikan dampak yang seimbang dan nyata bagi sektor pemerintahan maupun swasta,” ujarnya.

OJK menilai Lampung memiliki potensi ekonomi yang kuat, ditopang sektor pertanian, perkebunan, logistik, pariwisata, dan sumber daya alam yang melimpah.

Dengan perencanaan yang matang dan tata kelola yang baik, berbagai instrumen pembiayaan inovatif diyakini dapat menjadi katalis percepatan pembangunan daerah.
Hasil pertemuan ini akan menjadi masukan penting dalam penyusunan langkah lanjutan, termasuk kajian kelayakan, pemetaan proyek prioritas, penguatan kapasitas kelembagaan, serta penyusunan peta jalan yang komprehensif apabila Pemerintah Provinsi Lampung memutuskan untuk mengembangkan instrumen obligasi atau sukuk daerah.

Pada akhirnya, seluruh upaya tersebut bertujuan menghadirkan sumber pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan guna mendukung transformasi ekonomi daerah menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, hijau dan berdaya saing.

“OJK ingin memastikan bahwa setiap instrumen pembiayaan yang dikembangkan bukan sekadar menambah sumber dana pembangunan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing daerah, dan membangun Lampung yang lebih maju serta berkelanjutan,” tegas Otto Fitriandy.(*)

Facebook Comments Box
Continue Reading