Lampung Selatan
Lamsel Fest 2026 Angkat Spirit of Krakatoa, Hadirkan Konser Artis Nasional Hingga Drift Show
Alteripost Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan memastikan Lamsel Fest 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih spektakuler.
Mengusung tema “Spirit of Krakatoa”, festival tahunan kebanggaan masyarakat itu disiapkan menjadi magnet hiburan sekaligus penggerak ekonomi daerah melalui rangkaian acara yang lebih atraktif, konsep yang lebih matang, serta penampilan sederet artis papan atas Tanah Air.
Puncak pelaksanaan Lamsel Fest 2026 dijadwalkan berlangsung pada 14-15 November 2026 di Lapangan Korpri, Kompleks Perkantoran Pemkab Lampung Selatan. Persiapan festival mulai dimatangkan melalui rapat koordinasi yang dipimpin Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Senin (3/8/2026).
Bupati Egi menegaskan, keberhasilan penyelenggaraan Lamsel Fest 2025 telah menaikkan ekspektasi masyarakat. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta bekerja lebih serius agar penyelenggaraan tahun ini mampu menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan.
“Kita harus semangat menggambarkan karakter masyarakat Lampung Selatan yang memiliki ketangguhan luar biasa. Alhamdulillah, Lamsel Fest 2025 mendapat apresiasi yang luar biasa. Di sisi lain, ini menjadi tantangan karena ekspektasi masyarakat jauh lebih meningkat. Saya pastikan, dari sisi artis jangan di bawah tahun 2025, begitu juga dengan konsep acaranya. Tahun ini akan berbeda dan jauh lebih meledak,” ujar Egi.
Menurut Egi, keberhasilan festival tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara, tetapi juga oleh kualitas persiapan yang dilakukan sejak dini. Untuk itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah mengedepankan kolaborasi, meninggalkan ego sektoral, serta memperhatikan setiap detail pelaksanaan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Semua harus bergerak dari sekarang. Persiapkan jauh-jauh hari, perhatikan setiap detail pekerjaan. Jangan ada ego sektoral karena ini untuk kepentingan kita bersama. Bismillah, kalau kita serius dan bekerja kolaboratif, Spirit of Krakatoa bisa benar-benar terwujud di Lamsel Fest 2026,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan, Zita Anjani, menjelaskan bahwa “Spirit of Krakatoa” dipilih sebagai identitas utama Lamsel Fest 2026.
Tema tersebut merepresentasikan semangat, energi, dan ketangguhan masyarakat Lampung Selatan yang lahir dari sejarah serta kekuatan alam Gunung Krakatau, sekaligus menjadi simbol kekayaan destinasi wisata daerah.
“Yang ingin kita gelorakan tahun ini adalah Krakatoa. Filosofinya menggambarkan semangat, energi, dan kekuatan masyarakat Lampung Selatan. Kami ingin festival ini menjadi pembicaraan luas, UMKM laku, masyarakat bisa menikmati hiburan dengan tiket gratis dan menonton secara gratis,” kata Zita.
Mengusung semangat tersebut, Lamsel Fest 2026 akan menghadirkan empat agenda utama yang dikemas dalam konsep tematik, yaitu Krakatoa Grand Parade, Krakatoa Music Festival, Krakatoa Drift Show, dan Krakatoa Lava Run.
Setiap agenda dirancang menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Mulai dari parade kreatif bertema vulkanik, konser musik berskala nasional, atraksi drifting, hingga ajang lari penuh warna yang terinspirasi dari letusan lava Gunung Krakatau.
Tak hanya itu, festival juga akan dimeriahkan dengan berbagai atraksi pendukung, seperti drone show yang mengisahkan sejarah Gunung Krakatau, area pameran UMKM, pertunjukan Tari Tuping dengan konsep kostum yang lebih organik, serta parade malam dengan area pertunjukan yang lebih luas.
Untuk semakin meningkatkan daya tarik festival, sejumlah musisi ternama juga masuk dalam daftar opsi pengisi acara. Di antaranya Bernadya, Yura Yunita, Bilal Indrajaya, D’MASIV, Souljah, Happy Asmara, Ndarboy Genk, NDX A.K.A, DJ Bravy, hingga Alida Putri.
Melalui persiapan yang dimulai jauh sebelum pelaksanaan, Pemkab Lampung Selatan optimistis Lamsel Fest 2026 tidak hanya menjadi panggung hiburan yang dinantikan masyarakat, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM, memperkuat promosi pariwisata, serta memperkenalkan Spirit of Krakatoa sebagai identitas baru Kabupaten Lampung Selatan kepada publik yang lebih luas. (*)
Lampung Selatan
Tradisi Sedekah Bumi Sumur Kumbang Tetap Bertahan 206 Tahun, Bupati Egi: Warisan Leluhur Harus Dijaga
Alteripost Kalianda – Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, kembali digelar dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, Jumat (31/7/2026).
Tradisi adat yang telah diwariskan selama 206 tahun sejak 1820 itu kembali menjadi ruang syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus pengingat pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus perkembangan zaman.
Mengusung tema “Hamparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa”, perayaan tahun ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang hadir langsung membersamai ratusan warga mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sejak pagi.
Kehadiran Bupati Egi disambut hangat melalui prosesi adat berupa pengalungan sarung dan pemasangan peci oleh tokoh adat sebagai simbol penghormatan kepada pemimpin daerah sekaligus bentuk penghargaan terhadap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan Merik Havit, unsur Forkopimda, jajaran kepala perangkat daerah, Camat Kalianda, Kepala Desa Sumur Kumbang, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga setempat.
Meski hujan sempat mengguyur kawasan kegiatan, antusiasme masyarakat tidak surut. Warga tetap memenuhi jalur penyambutan dan mengikuti seluruh prosesi dengan penuh semangat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah sekaligus komitmen menjaga tradisi leluhur.
Sejak pagi, masyarakat bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari menyiapkan hidangan, penyembelihan hewan, hingga menata lokasi acara.
Semangat kebersamaan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Sedekah Bumi yang terus dipertahankan hingga kini.
Rangkaian acara diawali dengan pembagian air berkah yang diambil dari beberapa mata air atau sumur keramat di Desa Sumur Kumbang. Air yang sebelumnya didoakan oleh tokoh agama dan sesepuh adat itu menjadi simbol permohonan keberkahan, keselamatan, dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan Jembul, yakni hiasan yang dipenuhi berbagai hasil bumi dan komoditas pertanian sebagai lambang rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan. Di tengah guyuran hujan, arak-arakan tetap berlangsung meriah dan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang hadir.
Puncak kemeriahan terjadi saat tradisi perebutan isi Jembul dimulai. Ratusan warga berbaur penuh kegembiraan memperebutkan hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan, kemakmuran, dan harapan akan panen yang lebih baik pada musim berikutnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama yang semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat, tokoh adat, serta Pemkab Lampung Selatan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, serta semangat kebersamaan yang harus terus dijaga.
“Acara seperti ini menunjukkan filosofi yang kuat dan menjadi identitas masyarakat kita. Saya ingin tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi kebanggaan generasi muda, sehingga mereka semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ujar Bupati Egi.
Menurut Egi, kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri. Karena itu, pelestarian tradisi lokal harus terus diperkuat agar tetap hidup di tengah derasnya pengaruh budaya luar.
Pemkab Lampung Selatan, lanjut Egi, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai tradisi masyarakat sebagai bagian dari upaya melestarikan identitas budaya daerah.
Bahkan ke depan, Sedekah Bumi Sumur Kumbang diharapkan berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar sehingga mampu memperkenalkan kekayaan budaya Lampung Selatan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Tradisi seperti ini harus terus kita rawat dan kita jaga. Tidak banyak daerah yang masih memiliki budaya dan adat istiadat seperti ini. Mari Bersama-sama melestarikannya agar tidak lekang dimakan waktu,” kata Egi.
Melalui penyelenggaraan Sedekah Bumi yang telah memasuki usia lebih dari dua abad ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan bersama masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi juga mewariskan identitas daerah kepada generasi masa depan.(*)

