Ruwajurai
Orientasi Pengurus PWI Lampung Periode 2021-2026, Jalin Harmonisasi dan Paparkan Progja
Alteripost.co, Bandarlampung-
Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung periode 2021-2026 menjalin silaturahmi dan orientasi pengurus di Wira Garden, Bandarlampung, Sabtu (08/01/2022).
Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rapat pleno pertama pengurus PWI Lampung periode 2021-2026, guna memaparkan Program Kerja (Progja)
masing-masing bidang dalam masa kepengurusan.
Wira sapaan akrabnya juga mengapresiasi kehadiran para pengurus yang hadir dalam rapat pleno pertama ini. Karena ini menandakan kekompakan dan menjalin harmonisasi antar pengurus untuk terus membesarkan PWI Lampung.
“Kegiatan kali ini merupakan rapat perdana kita di kepengurusan PWI Lampung periode 2021-2026, acara ini juga untuk mengetahui apa-apa saja wacana dan rencana yang dituangkan dalam Progja. Serta terima kasih juga atas kehadiran para pengurus di agenda perdana kita kali ini,” ujarnya.
Wira juga berencana bakal membawa para pengurus PWI Lampung Kunjungan Kerja (Kunker) ke Singapura. Hal itu sebagai upaya meningkatkan kemampuan dan kreativitas para pengurus PWI Lampung agar ke depan lebih baik.
Wira juga berharap, nanti di periode 2021-2026 ini kesekretariatan PWI Lampung menyesuaikan dengan digitalisasi dalam mendaftar dan memperpanjang masa anggotanya.
Wira juga berpesan, hubungan PWI Lampung dapat memperkuat kerjasama antar lembaga guna meningkatkan mutu pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi pengurus, anggota dan keluarga PWI Lampung.
“Jadi ada informasi juga bahwa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) seperti Darmajaya berencana mau melakukan kerjasama atau (MoU) dengan PWI Lampung, guna meningkatkan mutu pendidikan SDM bagi pengurus, anggota dan keluarga PWI Lampung,” tegasnya.
Perlu diketahui, dalam kegiatan rapat perdana tersebut dihadiri seluruh para struktur dan pengurus PWI Lampung periode 2021-2026. (*).
Ruwajurai
BI Lampung: Inflasi 0,19 Persen, Stabil di Tengah Tekanan Global
Alteripost Lampung – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 0,36 persen (mtm). Angka ini juga sejalan dengan rata-rata inflasi Februari dalam tiga tahun terakhir yang berada di level 0,19 persen.
Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat sebesar 1,16 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen (yoy).
Inflasi Maret terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras (0,05 persen), bensin (0,04 persen), telur ayam ras (0,03 persen), dan beras (0,03 persen).
Kenaikan harga pangan tersebut dipicu meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.
Sementara itu, kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina pada 1 Maret 2026, seiring dinamika harga minyak global.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Cabai merah dan tomat masing-masing memberikan andil deflasi sebesar -0,09 persen dan -0,02 persen (mtm), seiring meningkatnya pasokan dari sentra produksi di Pesawaran dan Lampung Tengah.
Selain itu, penurunan harga emas dunia turut menekan harga emas perhiasan dengan andil -0,02 persen.
Ke depan, Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan (KPw) Lampung memprakirakan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai.
Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan akibat kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen yang direalisasikan bertahap sepanjang 2026, serta potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, pada komponen volatile food, risiko dipicu oleh rendahnya realisasi tanam akibat curah hujan tinggi pada Maret 2026 yang berpotensi menekan hasil panen. Selain itu, berdasarkan analisis BMKG, curah hujan diprakirakan rendah pada April–September, serta adanya potensi El Nino lemah pada semester II yang dapat mengganggu produksi pangan dan hortikultura.
Dari sisi administered prices, risiko inflasi berasal dari potensi kenaikan harga BBM akibat fluktuasi harga minyak dunia, serta dampak lanjutan kenaikan tarif Tol Lampung ruas Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi dan harga barang.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah konkret yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, penguatan kerja sama antar daerah, perbaikan distribusi pangan, hingga optimalisasi komunikasi publik guna menjaga ekspektasi inflasi di tengah ketidakpastian global.(*)

