Connect with us

Pendidikan

Dinilai Peduli Terhadap Dunia Pendidikan, Dwita Ria Raih Penghargaan

Published

on

Foto: istimewa for Alteripost.co

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Gerindra Dwita Ria Gunadi meraih penghargaan UBL Award Leader For Sustainable Development, atau Pemimpin atau Tokoh Berkomitmen Luar Biasa terhadap Pembangunan Berkelanjutan, Katagori Pendidikan dan Riset.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Rektor Universitas Bandar Lampung, Prof. Prof. Dr. Ir. Muhammad Yusuf S. Barusman, MBA, Kamis (21/07/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Dwita Ria menegaskan bahwa penghargaan ini bukan semata untuk dirinya pribadi, tetapi untuk dedikasi kepada Kaum Perempuan diseluruh Provinsi Lampung, khususnya perempuan-perempuan tangguh yang telah bekerja dan berkarya dengan baik diberbagai bidang keahlian/profesi.

Secara keseluruhan, jumlah masyarakat yang sudah memperoleh beasiswa aspirasi Ir. Dwita Ria Gunadi sejak tahun 2015 hingga saat ini jumlahnya lebih dari 100.000 ribu siswa, mulai SD, SMP, SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi.

UBL adalah salah satu dari sekalian banyak perguruan tinggi yang memperoleh alokasi beasiswa, Jika diakumulasi Sejak tahun 2017 hingga 2021, Dwita Ria telah menyalurkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah atau Bidik Misi, dan Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) UKT/PPA untuk mahasiswa UBL sebanyak 230 Mahasiswa jika diakumulasi nilainya mencapai 7 Milyar Rupiah.

Selain itu, Dwita Ria juga menyalurkan bantuan Pengabdian Masyarakat untuk dosen selama 2 tahun berturut-turut yaitu 2018 dan 2019 senilai 400 juta rupiah.

Dwita Ria mengungkapkan, baru tahu akan diberikan awards dari stafnya.

“Saya terharu, karena belum banyak yang saya perbuat, dan saya belum lama di politik, baru awal. Karena itu, saya merasa ini bukan untuk saya, tapi ini adalah untuk kerja dari semua tim dibelakang layar sampai hari ini yang selalu bekerja dalam sunyi,” kata Dwita Ria.

Sering kali saat bekerja itu, banyak yang tidak tampak di permukaan, tetapi bukan berarti minim karya. Award ini untuk mereka, kata Dwita Ria. Dia menganggap hanya mewakili.

“Saya terima ini, untuk saya teruskan kepada seluruh Perempuan Lampung,” ucap Legislator Partai Gerindra tersebut.

Dia berharap penghargaan ini juga menjadi pemacu bagi seluruh Perempuan di Lampung khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk memastikan cita-cita luhur bangsa Indonesia yakni menjadi masyarakat adil dan makmur dapat terwujud. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Kadisdikbud Lampung Pantik Semangat Inovasi Untuk Ribuan Mahasiswa Baru FKIP Unila

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Bandarlampung-
Suasana Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila) mendadak hening ketika Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, melontarkan analogi tajam di hadapan ribuan mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Kamis (13/8/2026).

Di tengah riuk acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 tersebut, Thomas menantang para calon pendidik untuk tidak sekadar datang mengajar, melainkan membawa arah baru bagi mutu pendidikan di Bumi Ruwa Jurai.

“Saya mengajak kalian sebagai calon pendidik untuk berpikir dari sekarang. Bagaimana nanti meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Lampung? Ingat, di sekolah itu tidak ada Google Maps,” ujar Thomas tegas.

Lewat analogi itu, Thomas menyentil realita ruang kelas masa kini. Dalam navigasi jalan, Google Maps bisa memberi petunjuk otomatis secara instan. Namun dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak ada peta digital yang langsung memecahkan persoalan siswa. Siswa lah yang harus belajar menjelajah, menganalisis, dan menerjemahkan teori.

Sayangnya, eksplorasi di kelas 10, penguatan di kelas 11, hingga akselerasi di kelas 12 sering kali belum terpetakan dengan presisi.

Peta Jalan Baru dan “Lampu Merah” Matematika IPA

Guna membenahi celah tersebut, Disdikbud Lampung kini tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) transformasi pendidikan di sekolah-sekolah. Sistem ini diibaratkan sebagai progress tracker untuk memantau rekam jejak akademik tiap anak secara berkala.

Thomas tak segan membeberkan peta kekuatan siswa Lampung yang berdasarkan kajian internal masih memiliki kelemahan mendasar.

“Hasil kajian kami, Lampung itu masih lemah di matematika dan IPA. Jadi, kalau ada sekolah mengklaim dirinya sekolah unggulan, dua mata pelajaran itu wajib hukumnya kuat,” bebernya.

Kepada mahasiswa baru, khususnya dari jurusan matematika dan sains, Thomas berpesan agar menjadikan masa perkuliahan sebagai kawah candradimuka. Mereka diminta aktif merancang desain pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan agar siswa kelak tak lagi ‘alergi’ saat bertemu soal-soal rumit.

Belajar dari SMAN 14 dan SMAN 1 Tegineneng

Dua contoh nyata dibagikan Thomas untuk membuktikan bahwa pemetaan dan inovasi guru bisa mengubah peta hasil belajar secara drastis.

Ia memaparkan pencapaian fenomenal SMAN 14 Bandar Lampung pada kelulusan tahun 2026. Sebanyak 284 siswa dari delapan rombongan belajar (rombel) mencatatkan rekor fantastis 100 persen lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 89 persen.

“Di SMAN 14 itu tim percepatan pembelajarannya ada, komite pembelajarannya hidup, dan manajemen sekolahnya aktif. Yang menarik, di sana ada 9 guru matematika yang sangat produktif,” puji Thomas.

Langkah serupa juga terjadi di SMAN 1 Tegineneng, Lampung Selatan, yang sukses meloloskan 99,42 persen kelulusannya ke PTN. Keberhasilan itu dipicu oleh hadirnya seorang guru matematika yang menjadi pioneer dan guru penggerak, mampu mengorkestrasi kolaborasi antarguru mata pelajaran.

Kedua sekolah ini, lanjut Thomas, menerapkan teknologi Information Technology Reset (ITR) serta Quick Check. Dengan alat uji dan pemantauan berkala ini, nilai passing grade serta target pencapaian tiap siswa bisa diukur secara objektif untuk diberikan intervensi yang tepat.

Mengunci Masa Depan dengan Digitalisasi

Mengakhiri pembekalannya, Thomas menekankan bahwa keterlibatan teknologi informasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang mengubah lanskap pendidikan secara mendasar.

Ia berharap perguruan tinggi seperti Unila terus memperkuat ekosistem pembelajaran digital. Dengan skema digitalisasi yang matang, civitas akademika termasuk para mahasiswa yang kelak menjadi guru akan memiliki jangkauan sumber ilmu yang tak terbatas oleh sekat-sekat fisik kelas formal.

Di tangan para calon guru yang hadir di GSG Unila hari itulah, peta jalan baru pendidikan Lampung kini dipertaruhkan. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading