DPRD
Pemilu 2024 Budi Condowati, DPC PDI Perjuangan Mesuji Siapkan Strategi
Alteripost.co Mesuji – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mesuji, Lampung menyiapkan strategi khusus untuk menyikapi jumlah kursi di DPRD Mesuji yang berkurang di Pemilu 2024 mendatang.
Seperti diketahui, KPU RI telah mengeluarkan PKPU 6 tahun 2023 untuk alokasi kursi dan Dapil seluruh Indonesia.
Jumlah kursi di DPRD Mesuji, akan berkurang. Jumlah kursi DPRD Mesuji, Lampung semula 35 kursi, akan menjadi 30 kursi di Pemilu 2024 mendatang.
Ketua DPC PDI Perjuangan Mesuji Budhi Condrowati mengatakan pihaknya menargetkan raihan jumlah kursi dua kali lebih banyak dari Pemilu 2019 lalu.
“Di Pemilu kemarin, PDI Perjuangan hanya meraih 4 kursi. Target kita di Pemilu 2024 mendatang, akan bertambah menjadi 8 kursi,” terangnya, Selasa (14/2/2023).
Condrowati menyebut, PDI Perjuangan pernah menjadi pemenang di Kabupaten Mesuji. Karena itu, pihaknya menargetkan kemenangan kembali di Mesuji, Lampung di Pemilu 2024 mendatang.
Untuk bisa meningkatkan jumlah kursi yang bisa diraih di DPRD Mesuji pada Pemilu 2024 mendatang, Condrowati yang juga Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyebut pihaknya telah menyiapkan caleg untuk bertarung di setiap dapil yang ada di Mesuji.
“Kami memiliki banyak strategi ya untuk meraih 2 kali lipat kursi dari Pemilu sebelumnya, salah satu strategi kami, setiap Dapil di Mesuji kami persiapkan caleg petarung dan siap menang,” ujarnya.
Caleg Petarung yang dimaksud Condrowati yakni tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh Agama yang sudah memiliki popularitas di daerahnya.
“Kita siapkan caleg-caleg yang popularitas dan sudah dikenal masyarakat di wilayahnya, sehingga mereka memiliki basis sendiri dan bisa terpilih di Pemilu 2024 mendatang,” ungkapnya.
Selanjutnya sebagai perempuan, Budhi Condrowati mengatakan, akan menaruh bacaleg perempuan di nomor urut 1 dan 2 pada Pemilu 2024.(*).
DPRD
Pembahasan APBD 2027 Dibahas Transparan, DPRD Lampung Pastikan Penggunaannya Bakal Tepat Sasaran
Alteripost.co, Bandarlampung-
Ketua DPRD Provinsi Lampung Ahmad Giri Akbar menegaskan DPRD memulai langkah besar membenahi kualitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh pos anggaran dibuka secara transparan untuk dievaluasi, sementara belanja yang tidak berdampak langsung kepada masyarakat siap dipangkas demi memberi ruang lebih besar bagi program prioritas.
Langkah tersebut, kata Giri, merupakan tindak lanjut arahan Koordinasi Supervisi Pencegahan Korupsi (Korsupgah) KPK agar proses penyusunan anggaran berlangsung transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.
“Kami membuka seluruh postur anggaran kepada fraksi-fraksi. Mana yang tidak prioritas, kami siap evaluasi. DPRD harus menjadi contoh bahwa anggaran disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar formalitas,” tkata Giri, Rabu (29/7).
Sebagai Ketua Badan Anggaran DPRD, Giri memastikan APBD 2027 mendatang, tidak lagi sekadar menjadi dokumen belanja pemerintah, tetapi menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan petani, menekan ketimpangan, serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat Lampung.
Menurutnya, indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar petani, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga penurunan gini ratio akan menjadi dasar utama dalam menentukan prioritas anggaran.
Selain itu, DPRD juga berkomitmen mengawal penuh program unggulan Gubernur Lampung, khususnya di sektor pertanian yang dinilai menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Program penyediaan dryer, pupuk, bibit, hingga bantuan pemberantasan hama akan menjadi perhatian utama dalam pembahasan APBD.
“Kami ingin anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama petani yang selama ini menghadapi berbagai persoalan di lapangan,” ujarnya.
Dalam evaluasi pembahasan APBD Perubahan, DPRD juga menemukan sejumlah persoalan mendasar di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Salah satunya terjadi di Rumah Sakit Bandar Negara Husada yang telah memiliki tenaga dokter, namun belum ditunjang peralatan medis yang memadai.
Giri mengatakan kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan masyarakat. DPRD pun mendorong Pemerintah Provinsi Lampung berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan agar pengadaan alat kesehatan dapat dibantu pemerintah pusat.
“Dokternya sudah ada, sudah digaji, tetapi alat kesehatannya belum tersedia. Ini harus segera dicarikan solusi agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” katanya.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada belanja pegawai di sejumlah OPD. DPRD menemukan adanya usulan kenaikan belanja pegawai yang jauh melampaui batas kewajaran, bahkan mencapai 7 persen hingga 15 persen.
Menurut Giri, kondisi tersebut berpotensi menggerus ruang fiskal yang seharusnya digunakan untuk program pembangunan dan pelayanan publik.
“Jangan sampai anggaran yang seharusnya dinikmati masyarakat justru habis untuk belanja pegawai. Semangat efisiensi harus dimulai dari pemerintah sendiri,” tegasnya.
Ia mengungkapkan Sekretariat DPRD telah lebih dulu melakukan rasionalisasi anggaran sehingga kenaikan belanja pegawai tetap berada di bawah batas 2,5 persen sesuai ketentuan.
Di sektor pertanian, DPRD juga menemukan masih banyak program strategis yang belum memperoleh dukungan anggaran pada tahun sebelumnya. Padahal, serangan hama tikus kini menjadi keluhan hampir di seluruh sentra pertanian Lampung.
“Hampir setiap turun ke lapangan, petani mengeluhkan serangan hama tikus. Ini persoalan nyata yang harus dijawab melalui kebijakan anggaran,” ujar Giri.
Tak hanya sisi belanja, DPRD turut menyoroti lemahnya realisasi pendapatan daerah. Giri meminta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menyusun strategi baru agar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak kembali meleset seperti tiga tahun terakhir.
Ia menilai setiap kabupaten dan kota memiliki persoalan berbeda dalam pemungutan pajak sehingga diperlukan pendekatan yang lebih spesifik berdasarkan akar persoalan di masing-masing daerah.
Selain itu, DPRD juga menemukan adanya perbedaan antara angka retribusi di lapangan dengan data resmi, termasuk pada penerimaan pajak air permukaan. Temuan tersebut akan menjadi fokus evaluasi bersama untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
“Kami ingin APBD Lampung menjadi APBD paling berkualitas. Setiap rupiah harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Itu komitmen kami,” pungkas Giri. (Rls)

