Connect with us

Pendidikan

Gandeng IIB Darmajaya, PWI Lampung Bakal Tingkatkan Kualitas SDM Jurnalis

Published

on

Foto: Ketua PWI Lampung beserta jajaran saat audiensi bersama perwakilan IIB Darmajaya

 

Alteripost.co, Bandarlampung-
Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung siap bersinergi melakukan kerja sama. Hal ini terungkap saat IIB Darmajaya melakukan kunjungan silaturahmi di Kantor PWI Lampung, Balai Wartawan H. Solfian Akhmad, Bandar Lampung, Senin (17/1/2022).

Pertemuan itu membahas sejumlah peluang kerja sama. Diantaranya peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui kuliah S1-S2, digitalisasi keanggotaan PWI, hingga penyediaan Internet Service Provider (ISP).

Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah menyatakan siap berkolaborasi dengan IIB Darmajaya untuk mewujudkan peningkatan SDM sesuai visi dan misinya saat pencalonan lalu.

“Saya sampaikan dalam visi misi dalam sambutan saya saat pelantikan lalu bahwa, pendidikan wartawan menjadi prioritas, wartawan ini tidak hanya lulusan SMA/SMK tapi juga bisa S1 hingga S2. Oleh sebab itu penting untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi,” ungkap Wira sapaan akrabnya.

Sebagai mahasiswa S2 IIB Darmajaya, Wira mengaku sangat memahami bila Darmajaya mumpuni dalam digital marketing.

“Kami butuh bantuan IIB Darmajaya, kami siap berkolaborasi, tentunya sinergi yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IIB Darmajaya M. Said Hasibuan mengatakan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan PWI Lampung.

“Kita membuat MoU-nya dan kita detailkan apa saja yang akan kita jalankan bersama selama 5 tahun ke depan dalam pimpinan Bapak Wirahadikusumah,” kata Said dalam pertemuan itu.

Said juga menyinggung sejumlah hal yang telah dikerjakan IIB Darmajaya. Salah satunya adalah program Smart Village.

“Kami melihat kebutuhan desa dan targetnya seperti apa. Kami siap berkolaborasi bersama PWI Lampung, terutama mewujudkan Smart Village yang merupakan mimpi semua pihak,” ucapnya. (rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Kadisdikbud Lampung Pantik Semangat Inovasi Untuk Ribuan Mahasiswa Baru FKIP Unila

Published

on

Foto: Istimewa for Alteripost.co

Alteripost.co, Bandarlampung-
Suasana Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila) mendadak hening ketika Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, melontarkan analogi tajam di hadapan ribuan mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Kamis (13/8/2026).

Di tengah riuk acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 tersebut, Thomas menantang para calon pendidik untuk tidak sekadar datang mengajar, melainkan membawa arah baru bagi mutu pendidikan di Bumi Ruwa Jurai.

“Saya mengajak kalian sebagai calon pendidik untuk berpikir dari sekarang. Bagaimana nanti meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Lampung? Ingat, di sekolah itu tidak ada Google Maps,” ujar Thomas tegas.

Lewat analogi itu, Thomas menyentil realita ruang kelas masa kini. Dalam navigasi jalan, Google Maps bisa memberi petunjuk otomatis secara instan. Namun dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak ada peta digital yang langsung memecahkan persoalan siswa. Siswa lah yang harus belajar menjelajah, menganalisis, dan menerjemahkan teori.

Sayangnya, eksplorasi di kelas 10, penguatan di kelas 11, hingga akselerasi di kelas 12 sering kali belum terpetakan dengan presisi.

Peta Jalan Baru dan “Lampu Merah” Matematika IPA

Guna membenahi celah tersebut, Disdikbud Lampung kini tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) transformasi pendidikan di sekolah-sekolah. Sistem ini diibaratkan sebagai progress tracker untuk memantau rekam jejak akademik tiap anak secara berkala.

Thomas tak segan membeberkan peta kekuatan siswa Lampung yang berdasarkan kajian internal masih memiliki kelemahan mendasar.

“Hasil kajian kami, Lampung itu masih lemah di matematika dan IPA. Jadi, kalau ada sekolah mengklaim dirinya sekolah unggulan, dua mata pelajaran itu wajib hukumnya kuat,” bebernya.

Kepada mahasiswa baru, khususnya dari jurusan matematika dan sains, Thomas berpesan agar menjadikan masa perkuliahan sebagai kawah candradimuka. Mereka diminta aktif merancang desain pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan agar siswa kelak tak lagi ‘alergi’ saat bertemu soal-soal rumit.

Belajar dari SMAN 14 dan SMAN 1 Tegineneng

Dua contoh nyata dibagikan Thomas untuk membuktikan bahwa pemetaan dan inovasi guru bisa mengubah peta hasil belajar secara drastis.

Ia memaparkan pencapaian fenomenal SMAN 14 Bandar Lampung pada kelulusan tahun 2026. Sebanyak 284 siswa dari delapan rombongan belajar (rombel) mencatatkan rekor fantastis 100 persen lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 89 persen.

“Di SMAN 14 itu tim percepatan pembelajarannya ada, komite pembelajarannya hidup, dan manajemen sekolahnya aktif. Yang menarik, di sana ada 9 guru matematika yang sangat produktif,” puji Thomas.

Langkah serupa juga terjadi di SMAN 1 Tegineneng, Lampung Selatan, yang sukses meloloskan 99,42 persen kelulusannya ke PTN. Keberhasilan itu dipicu oleh hadirnya seorang guru matematika yang menjadi pioneer dan guru penggerak, mampu mengorkestrasi kolaborasi antarguru mata pelajaran.

Kedua sekolah ini, lanjut Thomas, menerapkan teknologi Information Technology Reset (ITR) serta Quick Check. Dengan alat uji dan pemantauan berkala ini, nilai passing grade serta target pencapaian tiap siswa bisa diukur secara objektif untuk diberikan intervensi yang tepat.

Mengunci Masa Depan dengan Digitalisasi

Mengakhiri pembekalannya, Thomas menekankan bahwa keterlibatan teknologi informasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang mengubah lanskap pendidikan secara mendasar.

Ia berharap perguruan tinggi seperti Unila terus memperkuat ekosistem pembelajaran digital. Dengan skema digitalisasi yang matang, civitas akademika termasuk para mahasiswa yang kelak menjadi guru akan memiliki jangkauan sumber ilmu yang tak terbatas oleh sekat-sekat fisik kelas formal.

Di tangan para calon guru yang hadir di GSG Unila hari itulah, peta jalan baru pendidikan Lampung kini dipertaruhkan. (Rls)

Facebook Comments Box
Continue Reading